Sementara itu, produksi Brasil merosot hingga 12,9 persen. Kamboja sebagai pemasok penting di kawasan, juga mencatatkan penurunan sebesar 2,8 persen.
Catatan Kementan, secara agregat hampir seluruh kawasan di dunia diperkirakan mencatat hasil panen yang lebih rendah, dengan pengecualian Benua Afrika.
Penyebab fenomena ini, menurut FAO, menunjuk pada dua tekanan utama, yakni ketidakpastian iklim akibat prediksi munculnya badai kering El Niño, serta merosotnya margin keuntungan (profitabilitas) usaha tani akibat harga jual yang melemah namun berbenturan dengan lonjakan biaya input.
Peluang menguntungkan bagi Indonesia
Kementan juga mencatat mahalnya harga energi dan pupuk dunia memaksa sebagian petani di kawasan Asia Tenggara menunda masa tanam. Hal ini yang turut mengurangi pasokan beras di lumbung dunia.
Baca Juga: Akomodir Aspirasi Guru Honorer, Sufmi Dasco Tegaskan DPR dan Pemerintah akan Revisi Undang-Undang
Kontraksi produksi secara langsung ikut menggerus cadangan beras dunia. FAO memperkirakan stok beras dunia pada akhir 2026/2027 akan turun menjadi 213,8 juta ton dari 219,7 juta ton pada musim sebelumnya, atau terkoreksi sebesar 2,7 persen.
Perdagangan beras dunia pun ikut mengempis 2,1 persen menjadi 59,8 juta ton, seiring dengan makin banyaknya negara importir yang memperketat kebijakan demi memproteksi pasar domestik mereka.
Kementan meyakini fenomena kawasan ini menjadi peluang sangat menguntungkan bagi Indonesia.
FAO memproyeksikan sejumlah negara tetangga akan menaikkan volume impor berasnya tahun ini, termasuk di antaranya Filipina dan Malaysia.
Filipina, yang saat ini menjadi salah satu importir beras terbesar dunia dan letaknya tepat di sebelah utara Indonesia, diperkirakan harus menambah pembelian justru di saat produksinya tertekan.***