Untuk menjawab krisis air, Wahyu bersama warga merakit sistem irigasi tetes sederhana yang mampu menghemat penggunaan air hingga 60 persen.
Perubahan tak berhenti pada budidaya. Wahyu juga mendobrak ketergantungan petani pada tengkulak. Kelompok Taruna Muda diposisikan sebagai fasilitator pasar, memangkas rantai distribusi dan menjual hasil panen langsung ke Pasar Induk Kemang dan Kramat Jati.
Dampaknya signifikan. Pendapatan kelompok tani meningkat 65 persen. Sepanjang 2024–2025, unit usaha cabai yang dikelola bersama kelompoknya membukukan keuntungan bersih Rp246.258.000.
Namun bagi Wahyu, angka hanyalah sebagian cerita. Program ini menjadi jaring pengaman sosial bagi anggota kelompok sebagai penerima manfaat langsung, maupun bagi masyarakat lainnya. Yang paling membanggakan, 8 mantan pelaku PETI kini telah beralih menjadi petani produktif.
Baca Juga: FGSNI Apresiasi Komisi VIII DPR RI yang Menjamin Realisasi Pengangkatan PPPK Guru Madrasah Swasta
Secara makro, inisiatif kolaboratif bersama ANTAM mencatatkan nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 4,34 serta berkontribusi menurunkan tingkat kemiskinan desa sebesar 6,52 persen.
Atas dedikasinya, Wahyu dianugerahi Environmental and Social Innovation Award (ENSIA) 2025 sebagai Local Hero Inspiratif.
Kini, semangat itu terus menyala melalui Rumah Belajar Garitan yang telah dikunjungi lebih dari 696 orang. Ia juga berhasil mendorong regenerasi petani muda, termasuk Atang Sujai yang kini aktif menyempurnakan formula pupuk organik untuk desa-desa sekitar.
Bagi Wahyu, gelar sarjana dan penghargaan nasional bukanlah puncak pencapaian. Kemenangan terbesarnya adalah melihat tetangganya pulang ke rumah dengan selamat, membawa hasil keringat yang halal.
Baca Juga: Ngabuburit: Falsafah Menunggu Senja dan Jalan Sunyi Dakwah yang Menyatukan
“Kalau kita merawat tanah dengan hati, tanah akan merawat kehidupan kita. Dan kalau kita bergerak bersama, desa ini akan selalu punya harapan,” tutup Wahyu, menatap hamparan hijau yang dulu sempat hampir ditinggalkan.***