Baca Juga: Saat Media Lokal Priangan Timur Memilih Satu Wadah SWAKKA
Aroma ayam segar bercampur dengan wangi bawang merah yang baru diturunkan dari mobil bak terbuka. Produk olahan UMKM tersusun berwarna-warni, seolah memberi pesan bahwa ekonomi rakyat juga ingin tumbuh bersama.
Untuk komoditas tertentu seperti gula dan tepung terigu yang stoknya terbatas, panitia memberlakukan pembatasan maksimal satu kilogram per orang.
Kebijakan itu diterapkan agar distribusi lebih merata. Sementara beras dan produk UMKM tidak dibatasi, memberi keleluasaan warga menyesuaikan kebutuhan rumah tangga masing-masing.
Yang membuat warga bertahan mengantre bukan sekadar ketersediaan barang, melainkan selisih harga yang cukup terasa dibanding pasar tradisional.
Baca Juga: Tak Perlu Khawatir, Stok LPG dan BBM Aman Jelang Ramadan dan Lebaran
“Biasanya menjelang Ramadan ada lonjakan harga. Di sini harganya di bawah pasar, mudah-mudahan bisa membantu masyarakat,” kata Dadan.
Di sudut halaman, seorang ibu tersenyum sambil mengangkat dua kantong belanjaannya.
“Lumayan, bisa hemat buat kebutuhan sahur nanti,” ucapnya pelan.
Kalimat sederhana itu seperti merangkum makna kegiatan hari itu: bukan hanya soal stabilitas pasokan, tetapi tentang rasa aman menjelang bulan yang dinanti.
Baca Juga: Gerindra Ciamis Mulai Bangun Kantor Permanen, Momentum HUT ke-18 Jadi Penanda Konsolidasi
Bazar Pangan Murah ini menjadi cermin bahwa menjelang hari besar keagamaan, yang dicari masyarakat bukan sekadar diskon, melainkan kepastian.
Kepastian bahwa harga tidak melonjak liar, bahwa stok tidak menghilang, dan bahwa pemerintah benar-benar hadir di tengah denyut kebutuhan sehari-hari.***