NN diduga dianiaya oleh keluarganya hingga kakinya catat permanen.
Kasus yang menimpa bocah malang itu terungkap setelah ia berhasil kabur dari kandang hewan lantaran tidak kuat menerima siksaan dari pamannya.
Saat diselamatkan oleh warga, kondisi NN tampak memprihatinkan.
Kedua kaki NN tampak bengkok diduga karena dianiaya oleh pamannya.
Lantaran kondisinya tersebut, NN tidak bisa berjalan secara normal.
Kasus itu kemudian ditindaklanjuti oleh Polres Nias Selatan dengan memeriksa delapan orang saksi, termasuk paman dan tante korban.
Baca Juga: Buronan Pelaku Penganiayaan Personel TNI AD dan Istrinya di Kupang NTT Akhirnya Berhasil Ditangkap
Ditelantarkan Sejak Kecil
Menurut hasil penyelidikan sementara, NN telah dititipkan kepada kakeknya sejak berusia tiga tahun karena kedua orang tuanya bercerai dan merantau.
Setelah dititipkan ke kakeknya, bocah malang itu lalu kembali dititipkan kepada pamannya yang tinggal di Desa Hilikara, Kecamatan Lolowau, Nias Selatan.
Selama diasuh oleh sang paman, NN diduga mengalami penganiayaan.
Selain mengalami kekerasan fisik, NN juga dipaksa tinggal di kandang hewan.
"Keberanian korban melarikan diri dari kandang ayam menjadi titik terang dalam pengungkapan kasus ini," ungkap Ferry.
Artikel Terkait
Firasat Ayah Sebelum Anaknya Tewas dalam Tragedi SMPN 7 Mojokerto di Pantai Drini, Kebetulan atau Pertanda?
Gegara Kelalaian Sopir Fortuner, Pemotor Tewas Usai Tabrakan Beruntun 5 Kendaraan di Jalan Samas Bantul Yogyakarta
Pilu Seorang Ayah di Nguter Sukoharjo Kehilangan 2 Anak Sekaligus yang Tewas Tenggelam di Embung Pangtelu
Hujan Deras Picu Longsor di Sikka, NTT, Akses Terputus, Warga Siap Gotong Royong!
Nasib Pilu Bocah 10 Tahun di Nias Diduga Dianiaya Keluarga hingga Kakinya Cacat, Disuruh Tidur di Kandang Hewan oleh Paman
Sopir Truk di Ngawi Ditangkap Polisi Gegara Jual 7 Ton Pupuk Subsidi Ilegal, Begini Kronologi Lengkapnya
Polisi Gercep! Terduga Pelaku Pembunuhan Pria 60 Tahun di Pacet Bandung Ditangkap, Kurang dari 24 Jam
9 Fakta Pelajar SMPN 7 Mojokerto Terseret Ombak Pantai Drini Gunungkidul Yogyakarta, Tangis Pilu Sambut Kedatangan Korban dan Orangtua Miliki Firasat