Baca Juga: Pembangunan Sekolah Rakyat di Kulon Progo Terus Dikebut, 1.000 Pekerja Dilibatkan
Dengan memahami informasi, masyarakat bisa membuat keputusan yang lebih bijak, termasuk dalam hal keuangan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Ciamis, Okta Jabal Nugraha, menegaskan bahwa ajang ini bukan sekadar kompetisi seremonial. Ia menyebutnya sebagai program berjenjang yang dirancang untuk melahirkan agen perubahan di bidang literasi.
Menurutnya, proses seleksi dilakukan secara transparan dan berintegritas.
“Tidak ada ruang untuk KKN,” ujarnya tegas.
Baca Juga: Ajak Guru Perketat Penggunaan Gawai pada Anak, Bupati Ciamis Soroti Dampak Negatif terhadap Pelajar
Semua peserta dinilai berdasarkan kemampuan nyata, bukan kedekatan atau kepentingan tertentu.
Pernyataan ini menjadi penting di tengah skeptisisme publik terhadap berbagai ajang kompetisi.
Lebih dari itu, Okta melihat tantangan literasi saat ini tidak lagi sederhana. Buku cetak yang dulu menjadi sumber utama kini harus berbagi ruang dengan literasi digital. Namun, ia tidak melihat ini sebagai ancaman, melainkan peluang untuk memperkaya cara belajar masyarakat.
“Buku cetak tetap penting, tapi kita juga harus adaptif,” katanya.
Baca Juga: Reshuffle Kabinet Jilid 5 Resmi Diteken Prabowo, Ini Daftar Nama Pejabat yang Baru Dilantik
Menurutnya, perpaduan antara literasi konvensional dan digital justru bisa memperluas jangkauan pengetahuan. Yang terpenting bukan medianya, melainkan bagaimana masyarakat bisa mengakses dan memahami informasi dengan baik.
Kemenangan Lala menjadi simbol dari arah baru gerakan literasi di Ciamis. Bukan hanya membaca untuk tahu, tetapi membaca untuk bertahan dan berkembang. Di tangannya, literasi tidak lagi sekadar slogan, melainkan gerakan yang menyentuh realitas sehari-hari.
Kini, langkah Lala belum selesai. Sebagai juara tingkat kabupaten, ia akan melangkah ke tingkat Provinsi Jawa Barat. Tantangan tentu akan semakin besar. Namun jika melihat semangat dan visinya, ada keyakinan bahwa ia tidak hanya akan bersaing, tetapi juga membawa pesan yang lebih luas.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, Lala hadir dengan satu misi sederhana namun kuat: membantu masyarakat agar tidak hanya membaca, tetapi juga memahami. Karena di era ini, yang berbahaya bukan kekurangan informasi, melainkan salah memahaminya.***
Artikel Terkait
Seorang Guru Tegur Sopir MBG di SMA Sulteng Gegara Terlambat Datang, tapi Pelaku Malah Nyantai Sambil Sebat
Heboh Balita di Cianjur Dilaporkan Meninggal Dunia Diduga Keracunan MBG, Pihak Rumah Sakit Ungkap Dugaan Awal Penyebabnya
BGN Buka Suara Soal Kematian Balita di Cianjur yang Diduga Keracunan MBG
Deretan Hari Libur Bulan Mei 2026 Lengkap dengan Hari Besar Nasional dan Internasional, Ada Long Weekend Lho!
Isu Reshuffle Kabinet Menguat, Petinggi Golkar Nilai Menteri-menteri yang Tak Produktif Wajib Diganti
Rocky Gerung dan Syahganda Nainggolan, 2 Tokoh Kritis era Jokowi Itu Hadiri Agenda Reshuffle Kabinet Prabowo
Dilantik Jadi Menteri LH, Jumhur Targetkan Pengelolaan Sampah RI Sesuai Standar Global