Kamis, 4 Juni 2026

Kontroversi Proyek Whoosh: Dari Proposal Jepang-China hingga Model B2B yang Dinilai Ngawur

Photo Author
Arman Odie, Portaloka
- Minggu, 19 Oktober 2025 | 20:49 WIB
Sederet kontroversi kereta cepat Whoosh (Instagram @keretacepat_id)
Sederet kontroversi kereta cepat Whoosh (Instagram @keretacepat_id)

Baca Juga: Peringati Hari Pangan Sedunia, BRI Peduli Tegaskan Komitmen Dukung Ketahanan Pangan Melalui Panen Raya BRInita

“Presiden yang meminta Bu Rini (Soemarno) untuk meneruskan ke China karena Jonan tidak bersedia. Jadi Presiden sendiri yang mengubah dari Jepang ke China,” terang Pambagio.

Pilihan berpindah ke China membawa konsekuensi besar. Skema yang awalnya berupa pinjaman antar negara berubah menjadi model bisnis B2B atau business to business.

Dalam sistem ini, negara tidak diperbolehkan memberi subsidi langsung, namun beban bunga dan risiko finansial justru tetap menimpa keuangan negara.

Skema Bunga dan B2B yang Dinilai Bermasalah

Dalam kesempatan yang sama, pakar transportasi dan anggota tim asistensi awal proyek Whoosh, Harun Ar Rasyid membantah tudingan dirinya yang mengubah bunga proyek dari 0,1 persen menjadi 2 persen.

Baca Juga: Sebanyak 127.660 Penumpang WNA Gunakan Kereta Api di Daop 6 Yogyakarta Periode Januari hingga September 2025

“Enggak, saya sudah bilang itu salah kalau dikatakan saya yang men-setup 0,1 persen ke 2 persen. Begitu China dimenangkan, ya mereka bikin kesepakatan sendiri,” ujar Harun dalam diskusi yang sama.

Menurutnya, keputusan pemerintah menggunakan skema B2B justru menjadi akar persoalan.

Harun melanjutkan, dalam sistem itu, investor asing ikut menanam modal hingga 40 persen, namun konsekuensinya negara tidak bisa mengatur pembiayaan sebagaimana proyek G2G.

“Memilih B2B inilah yang ngawur kalau menurut saya. Karena sekarang sebetulnya kereta cepat ini masih tahap awal, baru seperlima mimpi. Mimpi kita sampai Surabaya,” jelasnya.

Baca Juga: Anggota DPR Harris Turino: Sri Mulyani Kapitalisme Swasta, Purbaya Kapitalisme Negara

Beban Lahan dan Subsidi Transportasi

Di sisi lain, Harun juga menyinggung persoalan lahan yang menjadi salah satu penyebab membengkaknya biaya proyek.

Harun menyebut, jika pada proyek jalan tol pembebasan lahan dibiayai negara, maka dalam proyek kereta cepat, biaya tersebut ditanggung oleh perusahaan pelaksana.

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X