CIAMIS, PORTALOKA.ID - Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bekerjasama dengan Disbudpora Kabupaten Ciamis menggelar Forum Diskusi Budaya Jawa Barat 2025, bertema "Kolaborasi dan Sinergi Budaya Provinsi Jawa Barat Menuju Warisan Dunia" bertempat di Pusat Budaya Galuh Karangkamulyan, Kamis, 25 September 2025.
Diskusi ini menghadirkan narasumber Kepala Disbudpora Dr Dian Budiyana, maestro seni tari Raden Rachmajati Nilakoesoemah, dan Kepala Pelestarian Kebudayaan Retno Raswati.
Adapun peserta diskusi berasal dari pelaku seni, budayawan dan komunitas budaya yang ada di Kabupaten Ciamis.
Kepala Disbudpora Kabupaten Ciamis, Dr Dian Budiyana, dalam pemaparannya mengatakan, Kabupaten Ciamis kaya akan situs budaya dan gudangnya seniman. Setiap jengkal tanah di Kabupaten Ciamis ada situs dan Patilasan.
Baca Juga: Peringati Hari Tani Nasional 2025, Pemkab Ciamis Kontrak KH Nonop Hanapi Pimpin Doa Bersama
"Kekayaan budaya ini beberapa di antaranya mendapatkan penghargaan Warisan Budaya Tak Benda( WBTB). Tugas kita menguatkan WBTB menjadi warisan dunia. Maka semua stakeholder budaya harus saling bersinergi dan berkolaborasi membangun ekosistem yang saling mendukung," ujar Dian.
Maestro tari Kabupaten Ciamis, Nilakoesoemah, proses regenerasi seni tari tidaklah mudah. Ia berjuang memperkenalkan seni tari sejak anak usia dini.
"Mewariskan seni kepada generasi muda sesungguhnya tidak mudah. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, kini tari mulai diminati generasi muda," ujar Teh Nila.
Kepala Pelestarian Kebudayaan, Retno Raswati pada sesi terakhir menyampaikan pentingnya membangun ekosistem budaya agar karya seni budaya terlindungi. Ekosistem itu menyangkut nilai bukan obyeknya.
Baca Juga: 3 Tempat Makan Terkenal di Ciamis, Rekomendasi Buat Wisata Kuliner Sekaligus Traktir Teman
"Sebuah karya seni budaya akan hidup jika terbangun ekosistem nilai yang berkelanjutan. Contohnya dalam ekosistem seni hari harus ada stakeholder yang terkait. Di antaranya pembuat panggung, sound sistem, penyedia kostum tari, perias wajah dan semua hal yang hidup dalam mata rantai seni tari," ujar Retno memberikan gambaran ekosistem.
Menurut Retno, kolaborasi dan sinergi itu merupakan bagian tak terpisahkan dari ekosistem budaya.
Produk budaya harus menghidupi para pelakunya sehingga ketahanan budaya bisa diciptakan.
"Kita harus melakukan regenerasi pelaku budaya agar semua karya budaya bisa bertahan hidup hingga ratusan tahun ke depan. Bukan sekadar mencipta, tapi juga merawat dan mempublikasikan di media sosial agar dikenal," pungkas Retno.***
Artikel Terkait
Ide Bisnis Auto Cuan, Resep Es Teh Strawberry Jumbo Rasanya Enak dan Menyegarkan, Cocok untuk Hidangan Acara Arisan
3 Fakta Pecurian Kotak Amal di Sewon Bantul, Pelaku Masih Pelajar Diamankan di Mushola Lain
Fakta-fakta Laka Maut Bus Vs Pikap di Piyungan Bantul, Adu Banteng hingga Sopir Pikap Kejepit Kendaraan
PGRI Kabupaten Kuningan Gelar Workshop Pengembangan Kemampuan Literasi, Numerasi, dan Karakter Peserta Didik, Ini Pesan Bupati untuk Guru
3 Fakta Truk Tabrak Rumah di Pandak Bantul, Berakhir Damai hingga Kerugian Jutaan Rupiah
CoreLab 2025 Promedia Hadir di Kampus Unesa, Ajang Mahasiswa Tingkatkan Skill Bikin Konten di era Digital Masa Kini
Liburan di Wonosobo ke Mana Aja? Ini 4 Rekomendasi Tempat Wisata yang Sayang untuk Dilewatkan, Pemandangan Alamnya Biki Mata Tak Berkedip
Cari Hotel Dekat Alun Alun Wonosobo? Ini Rekomendasinya, Lokasi Strategis, Tempatnya Bersih dan Murah
Tutorial Membuat Empal atau Gepuk Ayam ala Chef Devina Hermawan Lengkap dengan Sambal Terasi, Gurihnya Nggak Kalah dengan Daging Sapi
Ribuan Siswa jadi Korban Keracunan MBG, BGN Lakukan Langkah Tegas: Tutup Dapur SPPG hingga Bentuk Tim Investigasi