PORTALOKA.ID - Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health Day diperingati setiap 10 Oktober.
Peringatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan mental serta mendorong dukungan bagi orang yang mengalami masalah kesehatan mental.
Kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesejahteraan seseorang. Kondisi ini memengaruhi cara seseorang berpikir, mengelola emosi, menghadapi tekanan, menjalin hubungan, dan menjalani aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Wacana Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas Mulai 2027, Begini Penjelasan Mendikdasmen Abdul Mu'ti
Sejarah Hari Kesehatan Mental Sedunia
Hari Kesehatan Mental Sedunia pertama kali diperingati pada 10 Oktober 1992 atas inisiatif World Federation for Mental Health (WFMH), organisasi internasional yang berfokus pada isu kesehatan mental.
Pada awalnya, peringatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran dan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kesehatan mental. Sejak saat itu, 10 Oktober menjadi momentum tahunan untuk mendorong perhatian publik terhadap isu tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut mendukung peringatan ini sebagai kesempatan bagi pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi, dan masyarakat untuk membicarakan tantangan kesehatan mental serta upaya meningkatkan akses terhadap layanan yang dibutuhkan.
Baca Juga: Kenalkan Program Pembinaan dan Ketahanan Pangan kepada Pelajar, Lapas Banjar Gelar Edu Explore
Tema Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026
Pada 2026, Hari Kesehatan Mental Sedunia mengusung tema “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change”, yang dapat diterjemahkan sebagai “Pengalaman Hidup Didengar: Suara Nyata, Perubahan Nyata”.
Tema yang diangkat WHO tersebut menekankan pentingnya mendengarkan pengalaman orang yang hidup dengan kondisi kesehatan mental.
Pengalaman langsung mereka dinilai sebagai sumber pengetahuan penting dalam membentuk kebijakan, layanan, dan keputusan yang berkaitan dengan kesehatan mental.
WHO juga menyoroti pentingnya melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan, bukan sekadar meminta mereka menceritakan pengalaman.