ragam

Drama Anggaran Kominfo Kota Tasikmalaya, Ini Fakta Dana Siluman yang Mencurigakan!

Senin, 15 Desember 2025 | 21:44 WIB
Ilustrasi - Drama anggaran belanja fiber optik Kominfo Kota Tasikmalaya (Freepik/awesomecontent)

Semua itu harus terdaftar sebagai Barang Milik Daerah (BMD). Harus ada nomor inventaris. Harus ada peta jaringan. Harus ada berita acara pemasangan per site. Buktinya belum ada.

Baca Juga: 20 PNS Terima Satyalencana Karya Satya, Sekda Ciamis Ingatkan untuk Terus Mengabdi dengan Penuh Tanggung Jawab

Kita curiga jangan-jangan, fiber optiknya jadi milik vendor. Bukan mustahil ketika tahun awal pemasangan, si perusahaan vendor sebetulnya tidak punya jaringan. Lalu Kominfo Kota Tasikmalaya berbaik hati, memberikan anggaran milyaran berjudul belanja fiber optik. Dan ujung-ujungnya, jaringan fiber optik tersebut jadi milik vendor.

Enak nian tuh vendor dan kroninya. Jika logika ini yang terjadi, negara sudah jelas-jelas dirugikan, dan jelas-jelas ada pihak yang diuntungkan.

Yang lebih tidak logis jika ternyata, setelah “dibiayai” oleh Kominfo Kota Tasikmalaya untuk membuat jaringan optik, lalu setiap tahun dibeli lagi dibeli lagi.

Kalau skenario seperti ini terjadi, bukan sekadar Polres dan Kejari yang pantas turun, KPK pun sudah patut segera terjun.

Baca Juga: IFG Gelar Journalist’s Photo Journey 2026, Cek Syarat dan Ketentuan serta Waktunya

Yang dilakukan Kominfo Kota Tasikmalaya bisa termasuk pola klasik dalam kasus korupsi pengadaan: meleburkan uang sewa, uang layanan, dan uang barang ke dalam sebuah istilah yang kabur, sehingga menyamarkan apa yang sebenarnya dilaksanakan.

Ketika ditambah dengan fakta bahwa setiap tahun Kota Tasikmalaya tetap membeli paket “internet dedicated” secara terpisah, bahkan setelah menghabiskan miliaran untuk intranet berbasis fiber, kejanggalannya semakin terkuak.

Jika intranet itu benar dibangun fisik, dan bandwidth internet besar juga dibeli, mengapa tidak digabung dalam satu backbone saja seperti daerah lain?

Jawabannya sangat mungkin: karena dua paket yang seharusnya saling terintegrasi ini justru dipisah, entah untuk kepentingan apa. Terlalu sembrono juga kalau orang Kominfo ada yang berani bilang, punya dua vendor biar jadi back-up, kalau internet mati, intranet tetap terjaga.

Baca Juga: Ditulung Malah Menthung! Viral Video Pria Tasikmalaya Ditangkap saat Tidur di Pos Ronda di Boyolali, Gasak Motor Milik Wanita Klaten yang Menolongnya

Ya ampun, ini alasan kelas kacangan. Lalu buat apa ada SLA 99,99%, bung?!

Dan pola pemisahan paket ini muncul konsisten dari tahun ke tahun. Seolah-olah sejak awal memang dirancang sedemikian rupa.

Bandingkan dengan daerah lain:

Halaman:

Tags

Terkini