MOJOKERTO, PORTALOKA.ID - Suasana duka menyelimuti keluarga besar SMPN 7 Mojokerto setelah empat siswa mereka meninggal dunia dalam tragedi outing class di Pantai Drini, Desa Banjarejo, Tanjungsari, Gunungkidul, Yogyakarta.
Kejadian tragis ini menewaskan Alfian Aditya Pratama (13), Rayhaki Fatqiyansyah (13), Magen Yusuf Adliqo (13), dan Rifki Yudha Pratama (13), yang semuanya merupakan siswa kelas 7C.
Mat Arip, ayah dari Alfian Aditya Pratama, mengenang bagaimana putranya begitu bersemangat menjelang keberangkatan outing class.
Sehari sebelum pergi, Alfian meminta dibelikan sandal putih, memilih sendiri dompet baru, dan bahkan mencukur rambutnya agar terlihat rapi.
Baca Juga: Tangis Pilu Keluarga Sambut Kedatangan Rombongan Siswa SMPN 7 Mojokerto Usai Tragedi Pantai Drini
"Sebelum berangkat, dia minta sandal warna putih, beli dompet baru, dan potong rambut sendiri," ungkap Arip saat ditemui di rumah duka di Kelurahan Wates, Magersari, Kota Mojokerto pada Rabu, 29 Januari 2025.
Arip dan istrinya mengantar Alfian ke sekolah pada Senin, 27 Januari 2025 malam. Setelah bus berangkat, Arip masih sempat melakukan panggilan video dengan putranya untuk memastikan posisi duduknya di dalam bus.
"Dia duduk di tengah. Saya hanya ingin memastikan dia baik-baik saja," katanya.
Namun, keesokan harinya, Arip mengalami kejadian yang membuat hatinya tak tenang.
Saat dalam perjalanan menuju tempat kerja di Kediri pada Selasa, 28 Januari 2025 dini hari, ia mengalami musibah kecil yang terasa seperti firasat buruk.
"Sekitar pukul 03.30 WIB saya berangkat kerja. Lalu, jam 04.30 WIB, ban sepeda motor saya bocor sampai lepas bannya yang dalam. Saya tidak tahu kenapa, tapi saat itu perasaan saya tidak enak," ujarnya lirih.
Pagi itu, sekitar pukul 07.00 WIB, Alfian dan teman-temannya bermain di Pantai Drini tanpa menyadari bahaya yang mengintai.