berita

Kabar Duka, Guruh Sukarnoputra Meninggal Dunia, Indonesia Kehilangan sang Maestro Seni

Sabtu, 26 September 2026 | 12:12 WIB
Mengenang warisan budaya seni dari putra Presiden RI ke-1 Soekarno, Guruh Sukarnoputra yang wafat pada Sabtu, 26 September 2026. (Instagram.com/@infipop.id)

Sejarah mencatat, Bung Karno bukan sekadar pemimpin negara, melainkan seorang penikmat, pengumpul karya seni, hingga pencipta teater di masa pengasingannya.

Baca Juga: Polemik SPPG Mekarjadi Berakhir Damai, Operasional Dipastikan Kembali Normal 28 September

Jiwa seni yang tinggi dari sang Presiden Pertama RI itu menitis sempurna kepada putra bungsunya, Guruh.

Berdasarkan catatan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Guruh lahir di Istana Merdeka pada 13 Januari 1953 dan tumbuh dalam lingkungan yang sarat akan nilai estetika dan kebudayaan.

Didikan Bung Karno yang selalu menekankan pentingnya kepribadian dalam kebudayaan (Tri Sakti) membakar semangat Guruh sejak kecil.

Bakatnya sudah terlihat sejak balita melalui penguasaan berbagai tarian daerah, mulai dari Jawa, Sunda, Bali, hingga Minang.

Baca Juga: Ciamis Borong Dua Penghargaan dalam Sehari, Bupati Herdiat: Harus jadi Motivasi dan Terus Berinovasi

Guruh Gipsy: Melestarikan Budaya Lewat Musik

Menilik jejak karya Guruh, warisan jiwa seni sang ayah yang visioner dibuktikan lewat lahirnya mahakarya Guruh Gipsy pada 1976.

Sekembalinya dari Belanda, bersama Keenan Nasution, Chrisye, Abadi Soesman, Roni Harahap, dan Oding Nasution, Guruh menciptakan karya eksperimental yang memadukan gamelan Bali dengan progressive rock.

Kala itu, album yang hanya dicetak terbatas sebanyak 5.000 keping kaset ini menjadi jawaban Guruh atas ajakan sang ayah untuk menemukan identitas nasional.

Buku Musisiku (2007) mencatat Guruh Gipsy sebagai tonggak sejarah musik pop Indonesia, sebuah karya berani yang melampaui komersialisasi pasar demi pencapaian artistik dan kritik sosial.

Baca Juga: Baru 6 Bulan Kerja, Chef SPPG Pakis Surabaya Akui Curi 8 Jeriken Minyak Jelantah

Kepiawaiannya menjiwai lagu melahirkan deretan karya legendaris, seperti Renjana yang menjuarai Festival Nasional Cipta Lagu Populer Indonesia (1976), hingga hit sepanjang masa seperti Galih dan Ratna, Gita Cinta, Lenggang Puspita, dan Kembalikan Bali Padaku (1987).

Swara Maharddhika: Wajah Baru Seni Pertunjukan Indonesia

Halaman:

Tags

Terkini