Seluruh inovasi tersebut hasil dari tim riset di Edufarmers yang telah menjalankan lebih dari 100 siklus riset pada komoditas padi, jagung, cabai, dan bawang merah sejak 2022.
Langkah ini mendukung peran Edufarm sebagai mitra pelaksana yang menghubungkan kebijakan makro pemerintah dengan kebutuhan aktual di tingkat tapak.
Ekosistem teknologi ini pun telah digunakan oleh petani lokal. Kombinasi alat uji tanah dan panduan digital mempermudah pengolahan lahan harian.
"Edufarmers berkomitmen menjadi mitra pelaksana yang menjembatani kebijakan makro pemerintah dengan kebutuhan riil di lapangan."
"Melalui riset terapan dan teknologi yang
mudah diakses, kami memastikan setiap inovasi benar-benar memberikan dampak ekonomi dan keberlanjutan bagi petani," ujar CEO Edufarmers Amri Ilmma.
Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh akademisi Universitas Sebelas Maret (UNS).
Kunjungan ini pun mempertegas pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan lembaga donor global untuk memperluas cakupan teknologi pertanian berbasis bukti (evidence-based solution) demi terwujudnya ketahanan pangan nasional yang tangguh.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Warung Soto yang Wajib Dicoba Saat ke Klaten, Nomor 5 Topping Daging Sapi Melimpah
Tentang Yayasan Edu Farmers International (Edufarmers)
Edufarmers adalah organisasi nirlaba yang berkomitmen memperkuat ketahanan pangan melalui empat pilar utama, yakni ketersediaan, keberlanjutan, akses, dan pemanfaatan.
Melalui program inovatif, Edufarmers membekali petani dengan pengetahuan dan teknologi untuk membangun sistem pangan yang tangguh dan komunitas yang lebih sehat.
Edufarmers berkomitmen menciptakan masa depan di mana semua anak tumbuh sehat dan setiap petani sejahtera. ***