Terkhusus, terkait apakah insiden tersebut berkaitan dengan menu MBG yang sudah tak layak konsumsi, atau tidak.
Baca Juga: Duh! Satpam SPPG Diduga Jual Ribuan Ompreng MBG Demi Beli Narkoba, Sempat Bungkam, Lalu Pilih Ngaku
"Secara bersamaan, tim juga melakukan penyelidikan epidemiologi serta pengambilan sampel makanan dan spesimen korban untuk diperiksa di laboratorium sebagai bagian dari penelusuran penyebab kejadian," beber Hakam.
Hakam menerangkan, pihaknya mengaktifkan Tim Gerak Cepat (TGC) guan menyelidiki epidemiologi. Hal tersebut dilakukan untuk menelusuri sumber dugaan keracunan.
"Kami belum dapat menyimpulkan penyebab kejadian sebelum seluruh proses pemeriksaan laboratorium selesai," jelasnya.
"Karena itu, kami mengimbau masyarakat tidak berspekulasi dan menunggu hasil pemeriksaan yang sedang berjalan," tandas Hakam.
Yayasan hingga SPPG Diselidiki
Atas kasus ini, Dinkes juga berkoordinasi dengan SMKN 6 Semarang, SPPG Kota Semarang Timur atau Karangturi, Yayasan Putra Maju Mapan Mandiri, yang berkaitan dengan pelaksaan program MBG di wilayah tersebut.
"Sebagai langkah kehati-hatian, distribusi makanan dari penyelenggara SPPG terkait dihentikan sementara hingga proses penyelidikan epidemiologi dan pemeriksaan laboratorium selesai dilakukan," ungkap Hakam.
Di lain pihak, Kepala SMKN 6 Semarang, Berty Sagendra juga telah mengonfirmasi adanya tenaga kependidikan (tendik) di sekolahnya yang diduga keracunan MBG.
"Saya dapat laporan terdapat tendik yang terdampak juga," kata Berty dalam keterangannya, pada Jumat, 31 Juli 2026.
Hingga berita ini terbit, belum ada keterangan lanjutan dari pihak sekolah maupun otoritas berwenang atas kasus keracunan massal di SMKN 6 Semarang.***