“Memberikan security yang lebih karena itu kan dekat, lebih dekat dengan penjaga yang ada di ujung ke ujung. Jadi, untuk sementara, aspek itu yang kita gunakan,” tambahnya.
Usulan Gerbong Perempuan Dipindah ke Tengah
Sebelumnya, Menteri PPPA, Arifah Fauzi mengaku telah melakukan pembicaraan dengan pihak KAI mengenai posisi gerbong perempuan dalam rangkaian KRL.
“Tadi kalau tadi kita ngobrol dengan KAI, kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah,” ujar Arifah kepada awak media di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi pada Selasa, 28 April 2026.
“Jadi, depan belakang itu laki-laki, yang perempuan di tengah, untuk gerbongnya ya supaya juga lebih aman,” lanjutnya.
Baca Juga: Turun Kereta Langsung Healing, Ini Dia 4 Destinasi Wisata Dekat Stasiun Kereta
Saat menjenguk para korban di rumah sakit, Arifah mengaku kaget karena ada korban laki-laki dalam insiden itu.
“Kalau gerbong perempuan, banyaknya perempuan. Tadi ada yang laki-laki itu karena dia ada di gerbong tiga dan juga ada yang dari Argo Bromo yang kena juga,” jelasnya.
Sementara itu, korban kecelakaan KRL dan Argo Bromo Anggrek berjumlah 106 orang, dengan rincian data terbaru per Rabu siang, 29 April 2026, ada 16 orang meninggal dunia dan 90 orang lainnya mengalami luka-luka.
Korban yang luka dirawat di 11 rumah sakit sekitar lokasi kecelakaan dan kini masih ada 46 korban yang masih menjalani observasi untuk penanganan medis.***