berita

Soal Kebutuhan 19.000 Ekor Sapi untuk MBG, Kepala BGN Bilang Begini

Jumat, 24 April 2026 | 10:24 WIB
Kepala BGN Dadan Hindayana buka suara soal 19 ribu sapi untuk MBG (BGN)

PORTALOKA.ID - Publik tengah menyoroti soal kebutuhan 19.000 ekor sapi untuk menu makan bergizi gratis (MBG).

Terkait informasi yang beredar, Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya buka suara.

Kepala BGN, Dadan Hindayana mengatakan, angka 19.000 merupakan simulasi atau pengandaian perhitungan, bukan kondisi riil harian.

Perhitungan berdasarkan pada asumsi jika seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara serentak memasak menu berbahan daging sapi.

Baca Juga: Siswa SD di Jeneponto Diduga Keracunan Massal Usai Santap MBG, Warga Sebut Menu Ikan Sudah Berbau Busuk

"Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi," jelasnya, dikutip Jumat, 24 April 2026.

Dia menjelaskan, dalam satu kali proses memasak, kebutuhan daging sapi di satu SPPG bisa mencapai sekitar 350 hingga 382 kilogram, atau setara satu ekor sapi untuk kebutuhan dagingnya saja.

"Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi. Ini lah pentingnya makan bergizi agar tangkapan rasionya bagus. Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 (kg), itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja," papar Dadan.

Meski demikian, Dadan menegaskan bahwa BGN tidak pernah menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional.

Baca Juga: 1.780 SPPG Pelaksana MBG Disetop Sementara, Kepala BGN Ungkap Alasannya

Hal ini dilakukan untuk menghindari lonjakan kebutuhan bahan pangan yang dapat berdampak pada harga di pasar.

Dia juga mengungkapkan pengalaman saat peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu.

Saat itu, menu yang disajikan berupa nasi goreng dan telur untuk sekitar 36 juta penerima manfaat.

"Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000," ungkapnya.

Halaman:

Tags

Terkini