Seperti roti, Jumarti menyebut bahwa harga sebenarnya bisa dibeli Rp750, tetapi oleh pihak SPPG disebutkan seharga Rp3.500.
“Anda bilang ini (roti) berapa? Saya ini pedagang, ini di sana Rp750 karena saya biasa ambil di pabriknya, ini sama. Kalau dijual Rp3.500, berapa keuntungannya?” lanjutnya.
Lebih lanjut, kemarahannya memuncak karena selain orang tua siswa, ia juga menerima komplain dari para guru tentang menu MBG.
Ingatkan MBG Berasal dari Pajak Rakyat
Dalam kesempatan tersebut, Jumarti ikut mengingatkan bahwa MBG merupakan program yang pendanaannya diambil dari APBN.
“MBG jangan dianggap gratis, Rp15.000 itu dari pajak rakyat, dari guru. Gajinya pada dipotong, tau nggak? Gaji kami yang dulu dipotong 15 persen sekarang 16 persen, yang kemarin 5 persen, sekarang 6 persen karena untuk MBG,” terangnya.
“Kayak gitu kok dikasih begini. Gimana? Mau saya laporkan ke satgas karena saya punya bukti dan video,” sambungnya.
Ia juga menegaskan bahwa pihak SPPG harus memperbaiki kinerjanya ke depan.
“Bagaimana? Mau beri yang terbaik atau saya pindah? Kalau beri yang terbaik, akan dinilai terus. Jangan main-main, saya udah 3 kali 4 kali komplain,” tegasnya.
Video Lama untuk Bukti dan Dokumentasi Internal
Adapun video viral tersebut rupanya diambil pada 24 Februari 2026 dan disebut sebagai bukti internal.
Jumarti mengaku bahwa saat itu memang sengaja di video agar memiliki bukti dan dokumen internal. Ia mengaku bingung ketika video tersebut kini viral di media sosial.
Menurut penuturannya, setelah kejadian tersebut pihak SPPG sudah memperbaiki kualitas, baik pelayanan maupun menu yang dibagikan.
“Tujuan saya itu adalah agar SPPG itu berbenah. Tidak saya yang memberikan masukan terus. Ini sudah terjadi ya harus dihadapi,” tandasnya.***