Baca Juga: Lansia Tewas Tertabrak Kereta Api Malioboro Express di Gamping Sleman Yogyakarta
Purnama memilih cara yang berbeda. Ia menyedot air laut. Kemudian menampungnya pada bak penampungan hingga menunggu air sampai tua. Air tua adalah istilah untuk air yang telah memiliki kadar garam tinggi. Secara berkala, Purnama mengeceknya dengan salinometer, alat untuk mengecek kadar garam untuk memastikan apakah air tersebut siap dipindahkan ke dalam tunnel.
“Kalau kadar garamnya sudah tinggi, air-air dari bak penampungan dipindahkan ke tunnel. Awalnya di tunnel pertama dulu. Setelah dua minggu, dipindah ke tunnel ke dua. Ditunggu lagi sampai dua minggu untuk dipindah ke tunnel tiga sampai tunnel ke empat. Di tunnel lima dan enam, di sinilah pengkristalan terjadi,” beber Purnama.
Keseluruhan proses produksi garam ini memakan waktu setidaknya dua bulan. Akan lebih cepat jika cuaca kering. Dalam satu bulan, saat ini Purnama bisa menghasilkan 200 kilogram garam. Rata-rata per kilogram dijual seharga Rp1.500 - Rp.3000.
“Dipanen tiga kali. Panen pertama, kualitas paling bagus. Warnanya paling putih. Ini bisa dikonsumsi. Panen kedua dan ketiga, digunakan untuk pertanian dan peternakan,” jelasnya.
Saat ini, mayoritas pembeli dari pasar lokal. Untuk luar kota, Purnama menyebut pernah ada pesanan dari Kebumen. Sebagai upaya memperluas pasar, Purnama berencana merambah lapak online.
“Saya juga mau jual online. Sekarang kan jualan juga bisa serba digital,” ungkap Purnama.
Ke depan, Purnama berharap produksi garam yang ia mulai semakin berkembang dan lebih luas diterima pasar.***