Baca Juga: TOP 15 SMK TERBAIK di Jawa Timur, Acuan SPMB 2026 Biar Cepat Dapat Kerja
Selain batik ciprat, para peserta juga membuat produk seperti peralatan rumah tangga.
"Tujuannya adalah memberikan pengalaman bagi anak-anak yang mempunyai kemampuan melukis baik di atas kanvas atau kertas."
"Ini menggunakan media kain yaitu batik ciprat, karena hasil observasi kami mereka mempunyai kemampuan tersebut."
"Kami juga mengajak komunitas difabel lainnya, yaitu komunitas tuli dan cacat fisik, total 21, kemudian ada tambahan komunitas tuli 15 orang, difabel 5 orang karena khusus cacat fisik."
Baca Juga: MK Larang Polisi Aktif Duduki Jabatan Sipil, Mensesneg: Putusan Final dan Binding
"Kemampuan mereka berbeda dengan anak autis, karena mereka sudah bisa menghasilkan produk rumah tangga produk yang dipasarkan," ucap Henny Tri Hastuti.
Sementara itu, Ketua Penyandang Disabilitas Klaten, Qory Asmarawati mengaku senang dengan praktek pembelajaran dalam upaya peningkatan perekonomian penyandang disabilitas.
Meski kondisi fisik berbeda,mereka memiliki kemampuan tak kalah dengan warga pada umumnya.
Diharapkan pembelajaran atau bimbingan untuk para disabilitas terus dilakukan agar para mereka dapat menunjukan jati diri untuk terus berkarya.
Baca Juga: Update Musibah Tanah Longsor di Majenang Cilacap: 3 Orang yang Dilaporkan Meninggal Dunia
"Ini sebenarnya secara tidak langsung menunjukkan bahwa identitas mereka diakui."
"Mereka punya karya, kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk menunjukkan jati diri."
"Karya ini bukti bahwa difabel bisa berdaya."
"Harapannya bisa memotivasi anak untuk menyalurkan kreatifitas mereka menuju kemandirian."