Kejadian ini hampir sama dengan fase erupsi pada tanggal 7 Juli 2025, namun durasinya jauh lebih panjang mencapai 14 menit 5 detik.
Kepala PVMBG Hadi Wijaya menjelaskan, Gunung Lewotobi Laki-laki masih berpotensi erupsi kembali.
Gunung ini sudah menunjukkan peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik dalam menuju permukaan.
Hadi pun meminta pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan karena berdasarkan hasil pengamatan pada erupsi terakhir, kejadian erupsi terjadi lebih cepat dari tanda-tanda kegempaan.
Kejadian erupsi biasanya diperkirakan akan terjadi selang 4 jam pasca tanda-tanda kegempaan, namun pada erupsi Jumat malam, erupsi terjadi dua jam pasca pemberitahuan tanda-tanda kegempaan.
Baca Juga: LinkUMKM, Platform Digital BRI Yang Telah Dimanfaatkan 12,9 Juta UMKM Untuk Naik Kelas
Adapun risiko bahaya yang ditimbulkan dari erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki meliputi sebaran abu vulkanik, lontaran material letusan hingga jarak 3-4 kilometer dari kawah, dan banjir lahar dingin seperti yang terjadi pada 29 Juli 2025 lalu.
Bahaya Sebaran Abu Vulkanik
Tingginya kolom abu pada erupsi Jumat malam lalu yang mencapai 18.000 meter dari kawah membawa risiko yang cukup signifikan.
Kondisi cuaca di wilayah Nusa Tenggara Timur saat ini tengah memasuki hari tanpa hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau potensi pertumbuhan awan di wilayah selatan mulai berkurang dan rawan terjadinya kekeringan.
Sementara itu, berdasarkan data Citra Himawari pada tanggal 2 Agustus 2025 pukul 09.00 WIB, terdapat sebaran debu vulkanik hingga ketinggian 45.000 feet mengarah ke Barat Daya hingga Tenggara.
Baca Juga: Sepekan Hilang, Seorang Lansia di Sikka NTT Ditemukan Meninggal Dunia di Pinggir Jurang
Wilayah sebaran meliputi Kabupaten Flores Timur, Sikka, Ende, Nagekeo, Pulau Lembata, Kupang, Sumba, Perairan Selatan Flores, Laut Flores, Perairan Selatan Alor, Selat Ombai, dan laut Sawu.
BNPB mengimbau warga yang tinggal di sekitar wilayah terdampak erupsi untuk menggunakan masker jika hendak berpergian ke luar rumah untuk menghindari bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.