Dibandingkan hari biasa, omzet saat Ramadhan meningkat cukup signifikan.
"Kalau 20 liter omzetnya sekitar Rp400 ribuan. Dibanding hari biasa jauh sih, hari biasa 15 liter udah bagus," tuturnya.
Desi mengungkapkan, untuk berjualan di sekitar Kantor Kelurahan Maleber tidak perlu melakukan pendaftaran.
Begitu juga dalam pemilikan tempat, mereka menentukan sendiri untuk berjualan.
"Tidak ada retribusi untuk kelurahan, cuma dari pihak karangtaruna ada retribusi sebesar Rp2.000," ucapnya.
Hal senada juga diungkapkan Laela dan Ayi yang mengaku baru pertama kali berjualan takjil di sekitar Kantor Kelurahan Maleber.
Laela dan Ayi yang berjualan salad buah mengaku coba-coba ikut jualan karena melihat lokasi ini selalu ramai saat Ramadhan.
"Sebelumnya nggak jualan, paling di car free day. Berjualan di sini karena melihat potensi aja. Tapi lumayan ramai," tutur Laela.
Mereka berjualan selepas Ashar hingga Maghrib.
Sementara itu, Muslihat, Ketua LPYP Kelurahan Maleber mengatakan, kebanyakan yang berjualan di lokasi tersebut merupakan warga setempat.
Pihak kelurahan tidak membebankan biaya retribusi kepada para pedagang.