PORTALOKA.ID - Memasuki tahun baru 2025, para pengguna Gmail diminta mengganti alamat email.
Federal Bureau of Investigation (FBI) mengungkap, lebih dari 2,5 Miliar pengguna Gmail menjadi target utama serangan siber berbasis kecerdasan buatan (AI).
Dilansir dari Instagram trendingbuzz.id, Gmail menyimpan banyak data sensitif.
Sehingga, dapat menarik perhatian penjahat siber.
Baca Juga: Mahalini Umumkan Kehamilan Anak Pertama dengan Rizky Febian Melalui Potret Baby Bump
Belakangan ini, terdapat modus operandi baru melalui notifikasi Google Calendar yang memanfaatkan Gmail.
Perusahaan keamanan siber, McAfee juga mengingatkan adanya serangan phising dengan menggunakan AI.
"Penipu menggunakan kecerdasan buatan untuk membuat video atau rekaman audio palsu yang sangat realistis,"
"yang berpura-pura menjadi konten asli dari orang sungguhan," demikian dikutip Portaloka dari Forbes.
Serangan berbasis AI memungkinkan penjahat siber membuat konten palsu, baik video ataupun rekaman yang tampak nyata.
Teknologi deepfake mampu menipu pengguna hingga menyerahkan informasi pribadi.
Terlebih, aksesnya yang semakin mudah dan terjangkau.
"Seiring teknologi deepfake menjadi lebih mudah diakses dan terjangkau, bahkan orang tanpa pengalaman sebelumnya dapat menghasilkan konten yang meyakinkan," tambah McAfee.
Artikel Terkait
Polres Klaten Tangkap 2 Pria Pelaku Peredaran Sabu di Troketon Pedan, Ini Daftar Barang Buktinya
4 Fakta Penangkapan 2 Pria Pelaku Peredaran Sabu di Troketon Pedan Klaten, Berawal dari Laporan Warga hingga Sederet Barang Bukti yang Disita Polisi
2 Pria Warga Kebumen Keracunan Rokok 'Tingwe' Hingga Dilarikan ke Rumah Sakit, Diduga Ada Kandungan Tembakau Gorila
Tanggal Tayang Squid Game 3 Bocor, Benarkah Akan Rilis Juni 2025?
Mahalini Umumkan Kehamilan Anak Pertama dengan Rizky Febian Melalui Potret Baby Bump