Minggu, 19 Juli 2026

Jeritan Anak Petani Tulungagung di Medsos, Ceritakan Kronologi Ayahnya yang Diperkarakan Kasus Pupuk Non Subsidi

Photo Author
Arman Odie, Portaloka
- Rabu, 20 Mei 2026 | 06:01 WIB
Menyoroti kasus non subsidi yang diduga menjerat keluarga petani di Tulungagung, Jawa Timur. (Instagram.com/@eksistulungagung)
Menyoroti kasus non subsidi yang diduga menjerat keluarga petani di Tulungagung, Jawa Timur. (Instagram.com/@eksistulungagung)

PORTALOKA.ID - Anton Bagaswara, seorang anak petani asal Karangrejo, Tulungagung, kini tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Pasalnya, Anton diketahui mengunggah curhatan pilunya tentang kasus perkara pembelian pupuk non subsidi yang menjerat ayahnya.

Dalam unggahan Instagram @eksistulungagung, pada Selasa, 19 Mei 2026, Anton menuturkan sang ayah kala itu hanya membeli pupuk non subsidi untuk kebutuhan pertaniannya sendiri pada 2024 lalu.

"Ayah saya cuma seorang petani di Tulungagung," tulis Anton melalui akun Threads @antonbagaswara, pada Selasa, 19 Mei 2026.

Baca Juga: Gempar Ayah Kandung di Klaten Cabuli 2 Putrinya Sejak 2020, Polisi: Kakak dan Adik Menulis Kronologi di Buku Diary

"Pada tahun 2024, saat pupuk subsidi sedang langka dan sulit didapat petani, ayah saya membeli pupuk untuk kebutuhan pertanian sendiri," tambahnya.

Anton menyebut, pada akhir Maret 2026 ada seseorang yang datang meminta membeli pupuk tersebut ke ayahnya.

Belakangan, pihak keluarga menduga pembeli tersebut berkaitan dengan proses penyelidikan hingga ayahnya kini ditetapkan sebagai tersangka dugaan pelanggaran penyaluran pupuk non-subsidi.

Lantas, bagaimana sebenarnya kronologi kasus yang menjerat petani asal Tulungagung, Jawa Timur ini bermula hingga akhirnya viral di media sosial? Begini ceritanya.

Baca Juga: Kronologi Kasus Relawan Gaza yang Dibekuk Tentara Israel, PFI Laporkan 3 Jurnalis Asal Indonesia Kini Hilang Kontak

Dugaan Desakan Pembelian Pupuk

Pada akhir Maret 2026 lalu, Anton menuturkan adanya seseorang datang meminta membeli pupuk kepada ayahnya.

"Awalnya beliau (sang ayah) menolak karena pupuk tersebut memang disimpan untuk kebutuhan bertani sendiri," terangnya.

"Namun, karena terus diminta dan didesak, akhirnya permintaan itu dilayani," imbuh Anton.

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X