Kamis, 4 Juni 2026

Pakar Kebijakan Publik Nilai Upaya Seskab Teddy Jawab Keresahan Publik dalam Upaya Pemerintah Tangani Bencana Sumatera

Photo Author
Efrilia Aminati, Portaloka
- Selasa, 23 Desember 2025 | 20:13 WIB
Seskab Teddy dinilai berupaya jawab  keresahan masyarakat soal upaya pemerintah tangani bencana Sumatera (Dok Setkab RI)
Seskab Teddy dinilai berupaya jawab keresahan masyarakat soal upaya pemerintah tangani bencana Sumatera (Dok Setkab RI)

PORTALOKA.ID - Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya telah memastikan penanganan bencana Sumatera terus dilakukan secara masif.

Peran yang diambil Teddy dalam menyampaikan progres penanganan bencana, dianggap sebagai momentum menunjukkan upaya pemerintah dalam menangani bencana.

Hal tersebut disampaikan Pakar Kebijakan Publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah.

“Menurut saya ada kesempatan luar biasa bagi pemerintah dalam menjelaskan penanganan bencana Sumatera yang seolah-olah (disebut) tidak optimal,” kata Trubus dalam keterangannya, pada Selasa, 23 Desember 2025.

Baca Juga: Disebut Kirim Bantuan Kosong, TNI Jelaskan Konsep Airdrop dengan Helibox

Trubus menilai, pemerintah terus bergerak dalam melakukan penanganan bencana. Kendati demikian, memang daerah yang terdampak bencana sangat luas.

Lebih lanjut, Trubus mengatakan, kondisi sekarang berbeda dengan Tsunami Aceh 2004, di mana pemerintah menetapkan status bencana nasional, karena keterbatasan.

“Misalnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) belum terbentuk, kemudian anggaran APBD juga belum ada mengenai status tanggap darurat," ujar Trubus.

"Sehingga pilihannya cuma menetapkan bencana nasional,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Trubus mendorong adanya kemandirian dari pemerintah daerah dalam penanganan bencana.

Baca Juga: 4 Fakta Pekerja Tewas Saat Bongkar Tenda Hajatan di Rongkop Gunungkidul, Korban Alami Luka Bakar dan Terungkap Kondisinya

Kondisi yang terjadi di Sumatera, menurutnya, menandakan lemahnya pemerintah daerah dalam penanganan bencana, baik saat kejadian maupun pascabencana.

“Harusnya pada pra itu kan ada sosialisasi, pendidikan dan lain-lain," sebut Trubus.

"Contoh di Yogyakarta, ketika gunung meletus itu warganya tidak teriak-teriak karena sudah tau mau ke mana. Atau Lumajang saat Gunung Semeru meletus,” sambungnya.

Halaman:

Editor: Efrilia Aminati

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X