“Sekolah Rakyat adalah bukti bahwa infrastruktur bisa jadi pintu keluar dari lingkaran kemiskinan. Dengan fasilitas yang layak, anak-anak di desa terpencil punya kesempatan yang sama untuk maju,” kata Lisniari.
Baca Juga: Cara Mudah Membuat Bubur Pati Garut untuk Mengatasi Asam Lambung, Cek Resepnya di Sini!
Kedua, membangun dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kementerian PU berperan dalam penyediaan infrastruktur dasar dapur ini: mulai dari bangunan, instalasi air bersih, hingga sanitasi.
“Dapur MBG bukan hanya soal fisik, tapi soal generasi masa depan. PU hadir memastikan tempat itu higienis, aman, dan berfungsi untuk menyediakan makanan sehat bagi anak-anak,” ujar Lisniari.
Ketiga, proyek pengairan desa yang menjadi tulang punggung produktivitas pertanian. Saluran irigasi dibangun agar petani memiliki kepastian suplai air, terutama saat musim kemarau.
“Kalau petani bisa panen dengan baik, dampaknya langsung ke penurunan kemiskinan dan peningkatan ekonomi lokal. Inilah makna nyata dari nol persen kemiskinan dan delapan persen pertumbuhan,” katanya.
Lisniari mengakui, berbagai tantangan tetap ada, seperti koordinasi antarinstansi, keterbatasan anggaran, hingga pengawasan yang harus diperketat. Namun ia optimistis, PU 608 bukan sekadar angka, melainkan janji aksi.***
Artikel Terkait
Dukung Program Swasembada Pangan, Kementerian PU Kebut Saluran Irigasi Bendungan Pidekso Wonogiri
Menteri PU Benarkan Tidak Ada Anggaran untuk Pembangunan IKN, Bagaimana Nasibnya?
Tinjau Bendung Colo Wonogiri, Menteri PU Dody Hanggodo Pastikan Kesiapan Irigasi untuk Sokong Swasembada Pangan