Kamis, 4 Juni 2026

Pertama dalam Sejarah Kabupaten Ciamis, Naratas Layer Farm Launching Inovasi Teknologi Peternakan Modern

Photo Author
Arman Odie, Portaloka
- Jumat, 25 Juli 2025 | 18:30 WIB
Peresmian Naratas Layer Farm turut dihadiri Bupati Ciamis Herdiat Sunarya (Portaloka.id/Bang Sufi)
Peresmian Naratas Layer Farm turut dihadiri Bupati Ciamis Herdiat Sunarya (Portaloka.id/Bang Sufi)

CIAMIS, PORTALOKA.ID - Naratas Layer Farm sudah puluhan tahun malang melintang di peternakan unggas Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Naratas adalah branding yang dirintis oleh H. Adjat, seorang PNS yang memilih keluar dari pekerjaannya dan banting setir menjadi peternak unggas tradisional.

Naratas menjadi penggerak peternakan ayam di kalangan masyarakat. Dengan sistem kemitraan, Naratas menjadi salah satu pemasok ayam pedaging untuk kota-kota besar di Indonesia.

Bukan hanya itu, H. Adjat juga seorang penemu ayam pejantan yang kala itu tidak ada harganya. Dia mengembangkan ayam pejantan hingga akhirnya pejantan beredar di pasaran setara dengan ayam pedaging.

Baca Juga: Ajukan Kartu Kredit BRI Easy Card Lebih Mudah Lewat Website Resmi BRI, Bisa Dapat E-Voucher Rp100 Ribu, Simak Langkah-langkahnya!

Pada saat masa kejayaan peternakan ayam terpuruk dan harga jatuh, Naratas pun merambah dunia modern.

Melalui anak perusahaan Naratas yang dikelola anak pertama H. Adjat, Adam mengadopsi sistem close house.

Bermitra dengan perusahaan luar negeri, Adam bersama adiknya menginvestasikan modalnya dalam sistem peternakan ayam pedaging modern close house.

Sayap bisnis Naratas semakin berkembang di generasi kedua. Pada tanggal 23 Juli 2025, Naratas Layer Farm melaunching peternakan ayam petelur modern dengan teknologi German. Ini juga mengadopsi sistem close house dengan teknologi otomatis.

Baca Juga: Festival Galuh Niskala 2025 Resmi Dibuka oleh Bupati Ciamis Herdiat Sunarya

"Dengan sistem close house ini, kandang kami mampu menampung 43 ribu ekor ayam. Dengan konsep close house, ayam disini dipacu bertelur, karena suhu tubuh telah dirancang oleh mesin. Jadi nutrisi dan makanan terserap untuk bertelur saja. Dan telurnya akan otomatis digerakkan oleh mesin menuju penampungan," ujar Adam Naratas, putra pertama H. Adjat.

Menurut Adam, resiko menggunakan teknologi modern adalah hanya sedikit membutuhkan tenaga kerja lokal. Kemudian untuk pemeliharaan alat akan ada tenaga asing yang ditempatkan di kandang.

"Jadi lebih efisien, tapi untuk yang lain kami tetap menggunakan tenaga kerja lokal," tambah Adam.

Keberadaan kandang modern ini diharapkan bisa mendorong kemajuan sektor peternakan dan memperkuat ekonomi lokal.

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X