Kini, meski tubuhnya telah lama menjadi tanah, namanya masih hidup dalam bisikan angin Gunung Ardilaya—sebagai pemimpin, sebagai bangsawan, dan sebagai bagian dari sejarah Galuh yang tak pernah benar-benar hilang.
Tuah dan sumpahnya masih terasa hingga hari ini. Barangsiapa yang melakukan kegiatan di lapangan Cisadap tanpa sanduk-sanduk dan panggungnya membelakangi makam Gunung Ardilaya, dalam hitungan menit akan datang angin puting beliung dadakan dari arah Gunung Ardilaya.
Boleh percaya atau tidak, tergantung keyakinan masing-masing. Tapi sudah banyak kejadian yang membuktikan tuah Eyang Ardilaya masih aktif di alam modern.***