"Petani dengan kondisi seperti itu kita ajak berubah saja masih susah," katanya.
Para petani, kata Sobirin, mengaku kerepotan jika harus membuat kelompok, berkegiatan, dan kemudian beralih ke gula semut.
Apalagi proses membuat gula semut lebih rumit dan lama.
"Itu pertama tantangannya, jadi kita mau mengubah pendapatan mereka tetapi justru tantangannya dari mereka sendiri," tambahnya.
Kendala lainnya datang dari pengepul dan tengkulak.
Mereka merasa dirugikan dan terancam dengan keberadaan gula semut.
"Karena pasaran pertama gula cetak atau gula kristal itu adalah pengepul-pengepul yang lama, yang tanda kutip sudah 'menguasai' mereka sudah bertahun-tahun yang lalu. Nah, ketika kami masuk itu kan secara otomatis mengubah pasar mereka, alur penjualan pasar mereka. Akhirnya memang pengepul yang sudah lama beli produknya petani merasa dirugikan, merasa terancam," terang Sobirin.
Sudah sejak lama para petani di sana menerapkan sistem ijon di mana kebutuhan mereka akan dipenuhi terlebih dahulu oleh tengkulak.
"Tapi pada giliran mereka jual gula ke tengkulak harganya tengkulak yang menentukan karena merasa sudah ngasih duluan di awal," ungkap Sobirin.
"Ketika kami datang mereka ketakutan akan mengganggu sistem yang sudah jalan bertahun-tahun," akunya.
Namun, hal itu tak menyurutkan semangat Sobirin dalam mengenalkan dan memproduksi gula semut.
Tak ingin warga terus tercekik dengan ancaman tengkulak, Sobirin lalu mengubah sistem ijon yang sudah biasa mereka lakukan.
"Sistem itu kita coba ubah bahwa mereka jual ke kelompok kemudian kita ada transparasi dana," ujarnya.