Sebelumnya, rumah Wagiyem kondisiya sangat parah.
Bahkan, Wagiyem dan anaknya tidak berani untuk menempati rumahnya saat turun hujan.
"Kalau hujan mengungsi ke tetangga, atap bocor semua."
"Rumah itu kalau hujan banjir, air itu masuk, lantai rumah penuh air."
"Lantai terbuat semen, kondisi tembok juga sangat parah, miring."
"Tembok rumah itu perekat batu bata hanya dari ledok atau tanah liat," tutur Triyandra Saputra.
Melihat kondisi rumah yang sangat parah, para relawan mulai mencicil merenovasi pada Kamis, 12 September 2024.
"Biasanya proses renovasi itu 1 hari langsung selesai."
"Harus nyicil dulu untuk memperkuat tembok, memperkuat pondasi," ucap Triyandra Saputra.
"Dicicil karena kondisi tembok cukup mengkhawatirkan, naik ke atap juga enggak berani karena di atas sudah sangat lapuk," tambahnya.