Bubur itu kemudian dititipkan pada teman-temannya untuk dijual lagi seharga Rp 2.500.
"Pendapatan yang enggak pasti, kadang Rp 100 ribu itu kotor, kalau bersihnya ya paling Rp 20 ribu, kadang cuma dapat Rp 15 ribu, pernah juga dapat Rp 10 ribu," ucapnya.
"Satu orang paling cuma bawa 4 bungkus, 5 bungkus saja, kalau enggak laku ya kembali ke saya," tuturnya.
Wagiyem berharap, setelah rumahnya dibedah menjadi layak huni, ia dan anaknya bisa hidup lebih nyaman.
Selain itu, Wagiyem juga berharap jualan bubur lemu bisa lebih laku sehingga penghasilannya lebih meningkat.
Sementara itu, Sekretaris ICK, Triyandra Saputra mengatakan selama proses renovasi rumah, Wagiyem dan anaknya diinapkaan di sebuah hotel di Klaten.
Wagiyem ditemani oleh anak dan satu orang tetangganya.
"Mulai dari Sabtu Ibu Wagiyem kami inapkan di hotel di klaten, selama prose pembedahan biar nyaman tidak merepotkan tetangga juga," katanya.
Baca Juga: Sosok Ketua Osis SMAN 1 Cawas Klaten yang Meninggal Tersetrum saat Ulang Tahun di Mata Teman-Teman
Proses renovasi rumah Wagiyem membutuhkan waktu 4 hari, terhitung sejak Kamis, 12 September 2024.
Renovasi rumah dikerjakan oleh para relawan yang berjumlah 200 orang.
"Kondiri rumah besar dan cukup permanen, jadi betul-betul dibuat sekuat mingkin, memang butuh waktu sedikit lebih lama."