Adaptasi Kurikulum dan Penguatan Karakter
Baca Juga: Sayonara STIKes Muhammadiyah Ciamis, Ahlan Wasahlan Universitas Muhammadiyah Ciamis
Tantangan besar pendidikan nasional adalah perubahan kurikulum yang menuntut adaptasi cepat di tingkat daerah.
Di Ciamis, implementasi Kurikulum Merdeka menjadi ujian kesiapan guru dan sekolah. Di bawah kepemimpinan Dr. Erwan Darmawan, upaya pendampingan dan pelatihan guru terus dilakukan, meski belum sepenuhnya merata.
Di sisi lain, pendidikan karakter tetap menjadi narasi penting. Nilai-nilai kearifan lokal, religiusitas, dan budaya Sunda didorong untuk tetap hidup di lingkungan sekolah.
Pendidikan tidak semata-mata mengejar capaian akademik, tetapi juga pembentukan akhlak dan etika peserta didik—sebuah pendekatan yang relevan dengan identitas Ciamis sebagai daerah yang menjunjung nilai tradisi dan moralitas.
Infrastruktur dan Kesenjangan Akses
Namun keberhasilan tersebut tidak menutup mata dari persoalan klasik yang masih membelit: infrastruktur pendidikan dan kesenjangan akses.
Sejumlah sekolah di wilayah pinggiran masih bergulat dengan ruang kelas rusak, keterbatasan sarana pembelajaran, serta akses teknologi yang belum merata.
Digitalisasi pendidikan, yang menjadi kebutuhan zaman, belum sepenuhnya bisa dinikmati secara adil oleh semua peserta didik.
Ini bukan semata persoalan teknis, melainkan tantangan struktural yang membutuhkan sinergi lintas sektor dan keberpihakan anggaran yang kuat. Dunia pendidikan masih kerap harus “mengalah” dalam kompetisi prioritas pembangunan daerah.
Baca Juga: Lika Liku Perjuangan Guru Madrasah Swasta Raih PPPK: Dari Jalur Diplomasi hingga Bentuk Aliansi
Kesejahteraan dan Distribusi Guru
Isu kesejahteraan dan pemerataan guru juga menjadi catatan reflektif. Guru tetap menjadi tulang punggung pendidikan, namun beban administratif, ketimpangan penempatan, dan keterbatasan insentif masih dirasakan.