Baca Juga: Saat Media Lokal Priangan Timur Memilih Satu Wadah SWAKKA
Namun, pesan yang paling lama tinggal justru yang paling sederhana.
“Allah menciptakan mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan hati untuk merasakan kebesaran-Nya. Maka jagalah hati. Karena nilai ibadah bukan pada gerakan, tapi pada hadirnya hati,” tuturnya.
Ia pun mengingatkan, bulan Ramadhan yang segera datang bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan undangan kemuliaan. Bulan penuh berkah, ampunan, doa yang dikabulkan, hingga malam yang lebih baik dari seribu bulan.
“Tapi tidak semua orang mendapatkannya,” katanya. “Ramadhan hanya akan memuliakan mereka yang mempersiapkan hati.”
Baca Juga: Misalin: Tradisi Budaya Galuh Salawe, Simbol Syi'ar Islam dalam Upacara Adat
Persiapan itu, lanjutnya, bukan hanya soal fisik, tetapi juga ilmu, amal, sedekah, dan istighfar.
Di halaman masjid itu, pesan tersebut terasa nyata. Santunan yang diberikan bukan hanya mengenyangkan sementara, tetapi juga menghidupkan sesuatu yang lebih dalam: kesadaran bahwa keberagamaan sejati bukan hanya soal hubungan dengan langit, tetapi juga kepedulian kepada bumi.
Dan pagi itu, di Panglayungan, langit dan bumi seolah bertemu, dalam bentuk tangan-tangan yang memberi, dan tangan-tangan yang menerima, dengan hati yang sama-sama berharap ridha-Nya.**