PORTALOKA.ID - Di Ciamis, ada malaikat kecil yang tak bersayap, tak bersuara nyaring, namun bekerja tanpa lelah.
Energinya sederhana—bahkan nyaris tak terasa—hanya Rp1.000 perak infak. Nilainya kecil, seperti baterai mungil yang sering diremehkan.
Namun ketika ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan tangan ikut menyalakan baterai itu, ia berubah menjadi sumber daya besar yang menggerakkan harapan. Itulah kisah Baznas Ciamis.
Gerakan Infak Rp1.000 bukan sekadar ajakan, melainkan pendidikan batin. Ia mengajarkan bahwa kebaikan tak menunggu kelimpahan.
Setiap koin yang jatuh ke kotak infak adalah denyut energi sosial—dikumpulkan dengan disiplin, dikelola dengan amanah, lalu disalurkan dengan tepat sasaran.
Dari recehan yang berulang, Baznas Ciamis membangun kepercayaan; dari kepercayaan itu, lahirlah kekuatan kolektif yang bernilai miliaran.
Dana yang terkumpul menjelma nyata pada program Rutilahu. Rumah-rumah rapuh yang dulu bocor saat hujan dan dingin saat malam, perlahan berdiri lebih kokoh. Dinding tak lagi retak, atap tak lagi meratap.
Bagi penerima manfaat, Rutilahu bukan sekadar perbaikan fisik—ia memulihkan martabat. Anak-anak belajar tanpa rasa cemas, orang tua beristirahat dengan tenang, dan keluarga kembali percaya pada masa depan.
Tak berhenti di sana, energi Rp1.000 juga mengalir ke pemberdayaan masyarakat.
Modal usaha mikro, pelatihan keterampilan, dan pendampingan ekonomi menjadi jembatan agar mustahik beranjak mandiri.
Baznas Ciamis menyalakan lilin-lilin kecil: warung rumahan kembali berdenyut, perajin menemukan pasar, dan keluarga-keluarga perlahan berdiri di atas kaki sendiri. Dari infak yang ringan, tumbuh ikhtiar yang berkelanjutan.
Kekuatan gerakan ini terletak pada kesederhanaannya. Siapa pun bisa berpartisipasi—tanpa beban, tanpa pamrih. Rp1.000 mungkin tak mengubah hidup bila sendiri, tetapi ketika disatukan, ia menjadi baterai raksasa yang menyalakan solidaritas. Di situlah Baznas Ciamis berperan sebagai penghubung: merajut niat baik menjadi dampak nyata.