Berikut adalah beberapa potensi dampaknya:
-
Peningkatan Kualitas Ibadah. Libur selama Ramadhan memungkinkan siswa untuk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga, memperdalam agama, dan memperkuat spiritualitas.
-
Waktu untuk Amalan Sosial. Bulan Ramadhan dikenal sebagai waktu untuk berbagi dan mempererat tali silaturahmi. Kebijakan ini diharapkan dapat memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan sosial, seperti berbagi dengan yang membutuhkan.
-
Tantangan Pengelolaan Kalender Pendidikan. Libur panjang selama Ramadhan mungkin akan berdampak pada perubahan jadwal akademik. Pemerintah dan pihak sekolah perlu menyesuaikan kurikulum agar target pembelajaran tetap tercapai.
Melanjutkan Gagasan Lama
Wacana libur selama Ramadan ini bukanlah ide baru. Lima tahun lalu, pada masa kampanye Pilpres 2019, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sempat mengusulkan program serupa.
Menurut Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzhar Simanjuntak, program tersebut bertujuan meliburkan siswa selama Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri.
"Kita ingin melanjutkan tradisi Gus Dur yang ketika Ramadan diliburkan penuh seluruh siswa termasuk kampus," kata Dahnil dalam debat Pilpres 17 Maret 2019.
Wacana ini pun diklaim sebagai upaya menghormati tradisi dan memperkuat nilai-nilai keagamaan.
Dengan mengangkat kembali gagasan ini, Kemenag berharap dapat mewujudkan kebijakan yang lebih matang dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Harapan untuk Ramadhan 2025
Ramadhan adalah momen yang dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia.
Dengan wacana libur sekolah selama satu bulan penuh, Kemenag berharap Ramadhan 2025 menjadi lebih bermakna bagi generasi muda.