Hingga Minggu, 1 Maret 2026, pukul 13.00 WIB, pembatalan penerbangan menuju Timur Tengah itu berujung pada imbauan bagi seluruh penumpang agar tidak melakukan perjalanan ke bandara hingga situasi terkendali.
Sebelumnya diketahui, kondisi ini dipicu karena Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan gabungan mereka ke Iran.
Baca Juga: Fakta Baru Kasus Pembacokan Mahasiswi UIN Suska Riau, Polisi Ungkap Rencana Pelaku
Meledaknya Konflik Iran vs AS-Israel
Menurut laporan terkini dari Al-Jazeera, pada Minggu, 1 Maret 2026, serangan AS-Israel diklaim untuk menghilangkan ancaman yang ditimbulkan oleh rezim Iran.
Di sisi yang lain, Iran juga menyebut bahwa serangan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan.
Oleh sebab itu, militer berjanji untuk membalas serta melancarkan serangan balasan.
Tak butuh waktu lama, Iran langsung melancarkan serangan balasan yang menyasar di sejumlah pangkalan militer AS di wilayah Timur Tengah.
Baca Juga: Kemenag Ungkap Alasan TPG Guru Madrasah Lulusan PPG 2025 Periode Januari-Februari Belum Cair
Rentetan ledakan ini juga turut mengguncang beberapa negara Teluk Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat (AS) pada Sabtu, 28 Februari 2026 waktu setempat.
Tercatat, wilayah tersebut mulai dari Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, sampai Kuwait semuanya telah melaporkan insiden ledakan setelah AS-Israel menyerang Iran.***