Menurut Harris, peringatan itu kini terbukti benar.
“Yang dikhawatirkan Bu Mega sekarang terjadi: proyeknya mahal, penumpangnya sedikit, dan bebannya berat bagi negara,” ujarnya.
Pemilihan rute Halim–Tegalluar dianggap tidak strategis karena jauh dari pusat bisnis dan kawasan permukiman.
“Kalau mau logis, seharusnya Jakarta–Surabaya. Itu baru masuk akal secara ekonomi,” katanya.
Ia menyebut, target penumpang 40 ribu per hari tidak pernah tercapai. Hingga kini, jumlah pengguna hanya sekitar 16 ribu orang.
Untuk menarik penumpang, operator bahkan menurunkan tarif dari Rp400 ribu menjadi Rp250 ribu per perjalanan.
“Sekarang tiket turun, penumpang tetap sedikit. Artinya, pasar belum siap. Rugi operasionalnya bisa Rp10 miliar per hari,” katanya.
Efek Domino
Kerugian KCIC tidak hanya membebani proyek itu sendiri, tetapi juga menyeret perusahaan negara lain.
“KAI yang tadinya sehat jadi ikut nombok. WIKA pun terpukul karena banyak pekerjaan belum dibayar,” ujar Harris.
Ia menjelaskan, beban proyek ini akhirnya mengganggu arus kas sejumlah BUMN dan menimbulkan tekanan pada neraca fiskal pemerintah.
Bahkan, pembahasan mengenai restrukturisasi utang ke Tiongkok masih menggantung di meja Kementerian Keuangan.
“Kalau tidak ada keputusan jelas, bunga terus jalan, utang makin besar. Ini harus segera diputuskan: apakah restrukturisasi, subsidi, atau skema baru,” ujarnya menegaskan. ***