Kata Yoyon, keluarga tidak mengiginkan adanya autopsi dan menerima kejadian ini sebagai musibah.
"Enggak, saya enggak mau otopsi soalnya, tadi harusnya sampai sini jam 1, kita sudah masuk awal tadi ada kendala dari kepolisian minta autopsi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," ujarnya.
"Cuma kita dari keluarga sudah pasrah. apapun yang terjadi ini musibah gitu aja. Jadi kita enggak mau autopsi," katanya.
Terpisah, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Amikom, Alvito Afriansyah mengatakan dapatkan informasi kalau korban ikut lakukan demonstrasi di sekitar Mapolda DIY.
Hal ini diperkuat dari video yang beredar, dari motor yang dikendarai dan keterangan teman sekelas korban.
"Ya perihal itu bahwa memang betul itu adalah korban yang kita sama-sama lihat di video pada saat aparat melemparkan gas air mata dan mungkin insiden itu terjadi pada saat itu. Ya dari motor dan itu kami dapatkan informasi dari teman sekelas bahwa yang memvalidasi bahwa benar memang itu saudara Rheza," ucapnya.
Alvito mengatakan dari video tersebut nampak korban berboncengan dengan seseorang.
Namun sosok yang bersama korban disebut bukan mahasiswa Amikom.
"Itu kami belum tahu, tapi kemungkinan itu bukan mahasiswa dari Amikom, mahasiswa di luar Amikom yang nanti tentunya akan kami cari lebih lanjut perihal informasi-informasi itu," katanya.
Alvito berharap agar kasus ini segera terungkap dari berbagai pihak.
"Harapan dari kami semoga dapat mendapatkan keterbukaan dari berbagai pihak," ujarnya.***