"Di masyarakat tidak ada pemasangan bendera One Piece, tapi kami pasang di perahu 'Teu Naik' itu supaya masyarakat itu tertarik. Karena merdeka untuk kami itu bukan merdeka melihat rakyat yang menangis atau lapar, karena pejabat makan roti tapi rakyat hanya mencuri sebutir beras," tukasnya.
Ia tidak menampik bahwa konsep karnaval kali ini sebagai bentuk kritik sosial terhadap kondisi saat ini terutama bagi pemerintah desa.
"Harapannya supaya pemerintah desa lebih memperhatikan apa arti kemerdekaan itu di setiap masyarakat yang membutuhkan," harapnya.
Tikus Berdasi Ikut Karnaval
Selain replika kapal, warga juga menghadirkan sosok "Tikus Berdasi" pada karnaval 17 Agustus.
Ketua RT 01 Perum Kota Galuh, Yepi Firdaus mengatakan hadirnya sosok "Tikus Berdasi" juga bagian dari kritik sosial terhadap pemerintah yang disampaikan oleh masyarakat.
"Simbol tikus itu biar pejabat-pejabat di atas itu paham, mengerti dan tidak rakus," ucap Yepi.
Yepi mengaku sosok "Tikus Berdasi" terinspirasi dari kondisi saat ini dengan maraknya praktik korupsi.
"Ini kritik sosial buat pejabat-pejabat di atas yang tidak objektif dalam bidang keuangan," jelasnya.
Melalui kegiatan karnaval 17 Agustus, Ia berharap warga semakin kompak dan optimis.***