Minggu, 19 Juli 2026

Virus ASF di Sikka NTT Meningkat, 11 Kecamatan Terdampak, 500 Babi Alami Kematian

Photo Author
- Selasa, 4 Maret 2025 | 07:05 WIB
Virus ASF di Sikka NTT meningkat, 11 kecamatan terdampak, 500 babi alami kematian. (Pixabay/Jai79)
Virus ASF di Sikka NTT meningkat, 11 kecamatan terdampak, 500 babi alami kematian. (Pixabay/Jai79)

SIKKA, PORTALOKA.ID - Virus flu babi Afrika alias African Swine Fever (ASF) kini mengalami peningkatan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Diketahui wabah itu terus meluas hingga 11 dari yang sebelumnya 9 kecamatan di Kabupaten Sikka.

Data tersebut tercatat oleh Dinas Pertanian periode Oktober 2024 hingga awal Maret 2025.

Selain itu, virus ASF juga telah menyebabkan kematian sebanyak 500 ekor babi.

Baca Juga: Polres Sikka NTT Bubarkan Balap Liar di Jalan El Tari, 2 Sepeda Motor Berhasil Diamankan

Hal itu diejelaskan oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Yohanes Emil Satriawan pada Senin, 3 Maret 2025.

Adapun, perinciannya yakni sebagai berikut:

1. Kecamatan Talibura: 207 ekor babi mati.

2. Kecamatan Alok Barat: 115 ekor babi mati.

Baca Juga: Gerebek Arena Sabung Ayam di Sikka, Polisi Amankan Dua Terduga Pelaku dan Barang Bukti

3. Kecamatan Palue: 85 ekor babi mati.

4. Kecamatan Waiblama: 35 ekor babi mati.

5. Kecamatan Bola 17: ekor babi mati.

6. Kecamatan Alok: 14 ekor babi mati.

7. Kecamatan Kangae: 10 ekor babi mati.

Baca Juga: Berhenti Mendadak, Supra Fit Diseruduk Mobil Toyota Rush di Jalan Raya Maumere-Larantuka Sikka, Begini Kondisi Pengendara Sepeda Motor

8. Kecamatam Nita: 7 ekor babi mati.

9. Kecamatan Koting: 5 ekor babi mati.

10. Kecamatan Magepanda: 3 ekor babi mati.

11. Kecamatan Alok Timur: 2 ekor babi mati.

Emil menuturkan bahwa jumlah kematian babi bisa saja mencapai hingga ribuan karena dimungkinkan terdapat masyarakat yang tidak melapor.

Baca Juga: Ditemukan Tinggal Kerangka, Siapa Sosok Mayat di Palue Sikka yang Dimakamkan Secara Katolik di Rumah Polisi?

Sementara itu, data yang tercatat merupakan hasil data yang dilaporkan oleh masyarakat.

Menurutnya, peningkatan kasus ASF disebabkan minimnya kesadaran masyarakat.

Sebagai contoh, tak jarang masyarakat yang menyembelih dan mengonsumsi babi yang sakit.

Tak hanya itu, terkadang mereka juga menjualnya di pasar.

Baca Juga: Kecelakaan Motor vs Pikap di Sikka, Pengendara Motor Tewas, Penumpang Mobil Luka-Luka

Bahkan, terdapat pula yang membuang babi mati dinsungai yang semestinya dikubur.

Ia berharap agar masyarakat mengikuti arahan pemerintah dan berkenan menekan biosecurity.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya mencegah penyebaran virus ASF.***

Editor: Rohmana Kurniandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X