Jika di Bali terdapat perbedaan kasta, maka di dusun ini semua umat memiliki kesetaraan yang sama.
Dalam beribadah pun, mereka tetap memakai pakaian adat Jawa.
Dusun ini menganut sistem desa kalapatra.
Di mana agama Hindu itu berkembang, budaya dan tradisinya boleh mengikuti wilayah-wilayah setempat yang sudah tertanam.
Baca Juga: Ide Jualan Rp2 Ribuan, Roti Manis Isi Nutella, Lembut Creamy dan Bikin Nagih, Ini Dia Resepnya
“Jadi kita itu sangat kolaborasi. Kita tidak harus pakem untuk gaya Bali ataupun gaya Jawa. Kita gabungkan, mana yang sesuai kita jalankan untuk umat disini,” ucap Sutikno, pemangku adat Pura Podo Wenang.
Agama Hindu menyebar di Dusun Kaliwaru oleh abdi dalem Kraton Solo pada tahun 1960-an.
Kemudian pada tahun 1980-an, dibangunlah sebuah pura yang diberi nama Pura Podo Wenang sebagai tempat ibadah.
“Beliau bernama Bapak Suminto dan beliaulah yang menyebarkan agama Hindu khususnya di Kaliwaru hingga berkembang sampai saat ini,” imbuhnya.
Pura Podo Wenang sendiri telah dilakukan renovasi beberapa kali.
Pada awalnya hanya sebuah ukiran batu putih saja hingga menjadi singgasana yang megah.
Menurut Bapak Sutikno, nama Podo Wenang diambil dari nama dewa dalam kisah pewayangan Jawa yang berarti dewa diatasnya dewa.
Walaupun sebagian masyarakat menganut agama Hindu, namun toleransi antar warga berbeda agama tetap terjalin dengan baik.