Memasuki abad ke-19, wilayah Galuh termasuk Bangunharja mulai berada dalam pengaruh pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Sistem tanam paksa dan pengembangan perkebunan kolonial perlahan mengubah pola kehidupan masyarakat desa.
Perkembangan wilayah saat itu dipengaruhi oleh pembangunan saluran irigasi, pembukaan lahan pertanian, dan perubahan tata pemerintahan desa.
Meski berada dalam tekanan kolonial, masyarakat tetap mempertahankan nilai budaya Sunda seperti sauyunan, gotong royong, penghormatan terhadap leluhur, serta kehidupan religius yang kuat.
Nilai-nilai tersebut masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat Bangunharja hingga sekarang.
Baca Juga: 3 Kuliner Ikonik Cirebon yang Wajib Dicoba, Nomor 2 Sangat Populer
Sejarah sebagai Identitas Masyarakat
Bagi masyarakat Bangunharja, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi bagian penting dari identitas dan kehidupan sosial masyarakat.
Melalui penelitian sejarah desa, masyarakat diharapkan dapat memahami asal-usul wilayahnya, mengenal perjuangan para leluhur, serta menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Saat ini Bangunharja juga mulai berkembang sebagai desa berbasis budaya dan wisata lokal. Potensi sejarah, tradisi masyarakat, hingga kekayaan alam menjadi modal penting dalam pengembangan desa di masa depan.
“Sejarah desa harus menjadi sumber pendidikan dan kebanggaan masyarakat. Dari sejarah, generasi muda dapat belajar tentang jati diri dan nilai kehidupan masyarakat Sunda,” kata Syarif Hidayat.
Dengan jejak sejarah yang panjang, kekayaan budaya yang kuat, serta tradisi masyarakat yang masih hidup hingga kini, Desa Bangunharja menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan peradaban Galuh Timur di Kabupaten Ciamis.***