Ia menghidupi pedagang, juru parkir, homestay sederhana, dan UMKM desa—namun belum cukup kuat mengisi kas daerah.
Desa Wisata: Relevan, Tapi Perlu Diubah Cara Pandangnya
Dalam beberapa tahun terakhir, desa wisata digadang-gadang sebagai jawaban. Hampir setiap kecamatan memiliki desa wisata dengan narasi unggulan: alam, budaya, atau edukasi.
Namun di tengah lesunya kunjungan, muncul keraguan: apakah desa wisata masih relevan?
Jawabannya: masih relevan, tetapi tidak dengan pendekatan lama.
Desa wisata kerap diposisikan sebagai proyek, bukan proses. Dibentuk, diresmikan, difoto, lalu ditinggalkan tanpa pendampingan berkelanjutan. Padahal desa wisata bukan sekadar destinasi, melainkan ekosistem: manusia, budaya, ekonomi, dan lingkungan.
Jika desa wisata hanya diukur dari jumlah kunjungan, maka ia mudah dianggap gagal. Tetapi jika dilihat sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat, maka relevansinya justru semakin kuat—terutama di masa ekonomi sulit.
Masalah Utama: Akses, Narasi, dan Konsistensi
Lesunya pariwisata Ciamis bukan hanya soal promosi. Ada persoalan mendasar, yakni:
Aksesibilitas
Banyak destinasi indah, tetapi sulit dijangkau. Infrastruktur jalan, transportasi publik, dan penunjuk arah masih menjadi kendala.
Baca Juga: Wisata Sejarah Kabupaten Ciamis, Jejak Peradaban Galuh yang Tetap Lestari
Narasi yang Lemah