Oleh Bang Sufi
PORTALOKA.ID - Bukan putus asa, tapi para relawan pariwisata kini sudah mencapai titik nadir. Dari 43 desa wisata yang ada paling hanya beberapa yang masih dijadikan kunjungan wisatawan.
Bagai mati segan hidup pun enggan. Berganti pejabat tak langsung menjadi energi penggerak. Pejabat baru pun belajar lagi, terutama Kepala Bidang Destinasi Wisata di Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis.
Menjelang akhir tahun, jalanan menuju beberapa destinasi wisata di Kabupaten Ciamis terasa lebih lengang dari biasanya.
Tidak seramai masa sebelum pandemi, tak sepadat harapan para pelaku usaha kecil yang menggantungkan hidup pada arus wisatawan.
Warung sederhana di sekitar objek wisata buka setengah hati, pedagang cenderamata menunggu tanpa kepastian, dan pengelola desa wisata kembali menghitung untung-rugi dengan napas panjang.
Pariwisata Ciamis sedang lesu. Pertanyaannya bukan lagi mengapa, melainkan sampai kapan dan masihkah sektor ini layak dijadikan sandaran Pendapatan Asli Daerah (PAD)?
Antara Potensi dan Realitas PAD
Secara geografis dan kultural, Ciamis bukan daerah miskin potensi. Alamnya lengkap: pegunungan, sungai, danau, air terjun, hingga lanskap pedesaan yang masih alami. Budayanya pun kaya: tradisi Galuh, seni lokal, kearifan desa, hingga wisata religi.
Namun potensi tidak selalu berbanding lurus dengan kontribusi PAD.
Faktanya, hingga kini pariwisata Ciamis belum menjadi penyumbang signifikan bagi PAD. Retribusi wisata masih relatif kecil, pengelolaan objek belum optimal, dan sebagian besar destinasi dikelola secara swadaya oleh masyarakat desa dengan keterbatasan modal dan manajemen. Banyak objek wisata hidup, tapi tidak tercatat secara fiskal.
Pariwisata Ciamis lebih sering menjadi penyangga ekonomi rakyat kecil, bukan mesin pendapatan pemerintah daerah.