Baca Juga: Kisah Nelayan Cirebon Tak Sengaja Tarik Pancingan Malah Dapat Harta Karun Rp720 Miliar di Laut Jawa
Golongan muda, diwakili tokoh seperti Sutan Syahrir, Wikana, dan Chairul Saleh, mendesak agar proklamasi segera dilakukan tanpa menunggu arahan Jepang.
Mereka khawatir kemerdekaan Indonesia hanya menjadi bagian dari strategi politik Jepang.
Sementara itu, Soekarno dan Hatta masih berpegang pada rencana semula. Mereka menilai jika kemerdekaan diproklamasikan terlalu cepat, bangsa ini belum siap secara matang. Apalagi, dukungan PPKI dan persiapan administrasi negara belum tuntas.
"Ketegangan semakin memuncak. Pada 15 Agustus 1945, golongan muda akhirnya membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Di tempat itulah mereka menekan kedua pemimpin itu agar segera memutuskan," tutur Aboe Bakar Lubis.
Baca Juga: 12 Ucapan HUT RI ke-80 untuk Dibagikan di Momen Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2025
Setelah melalui perdebatan panjang, Soekarno dan Hatta akhirnya luluh.
Mereka sepakat untuk tidak lagi menunda proklamasi. Keputusan ini mengubah arah sejarah bangsa Indonesia.
Hasilnya, pada 17 Agustus 1945, teks proklamasi dibacakan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.
Sejarah mencatat, kemerdekaan RI akhirnya lahir lebih cepat dari rencana awal, bukan pada 24 Agustus, melainkan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang kini diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia.***