"Tantangannya hanya 1 karena sangat lebar media lukisnya. Anak-anak sudah biasa pakai media kertas, ini kita pakai media payung," tuturnya.
"Jadi yang memang ini merupakan ide kreatif anak masing-masing dalam mencoretkan ide gagasan lewat lukisan topeng di atas payung," tambahnya.
Karya para peserta nantinya akan dipamerkan saat acara-acara kedinasan atau pemerintahan sebagai wujud melestarikan warisan budaya dan memperkenalkan payung Juwiring layak untuk dilestarikan dan dipertahankan.
Sementara itu salah satu peserta lomba, Alika Renata mengaku baru pertama kali mengikuti lomba melukis payung.
Ia mengaku mengalami kesulitan saat melakukan pengecatan gambar di atas media payung.
"Saya ikut lomba iki karena menarik. Kesulitannya saat mengecat, susah, enggak boleh keluar garis, harus detail sama komposisi warnanya harus sesuai," kata Alika Renata.
"Biasanya melukis di kertas, ini di payung, perbedaannya di alat lukisnya sama bahannya," tambahnya.
Siswi SD Negeri 1 Prawatan, Kecamatan Jogonalan itu berharap kegiatan lomba melukis payung akan sering digelar untuk mengasah minat dan bakat siswa. ***
Artikel Terkait
Meriah! Ratusan Warga Berebut 3 Gunungan Buah, Sayur dan Nasi Tumpeng, Tradisi Bersih Desa di Trucuk, Klaten
Lomba Unik Melukis Payung Kertas Diikuti Puluhan Anak di Klaten untuk Memeriahkan Datangnya HUT Kemerdekaan RI ke-79
Kemeriahan Ratusan Warga Desa Pokak, Klaten Berebut 3 Gunungan Hasil Bumi Tradisi Bersih Sendang Sinongko, Wujud Syukur Panen Melimpah
Kemeriahan Ratusan Warga Berebut 8 Gunungan Hasil Bumi dan Jajanan Pasar Festival Candi Kembar di Klaten, Bupati: Meningkatkan Potensi Wisata dan UMKM
Ratusan Warga Demakijo, Klaten Ngalap Berkah Berebut 3 Kuintal Gunungan Beras Rojolele Srinuk dan Sayuran hingga Kemeriahan Kirab Budaya
Kemeriahan Bersih Desa Karangpakel, Trucuk, Klaten, Ratusan Warga Rebutan 8 Tumpeng dan 4 Gunungan Hasil Bumi
Kemeriahan Warga Desa Wiro, Klaten Berebut 10 Gunungan Berisi Uang Tunai, Kambing dan Hasil Bumi Tradisi Rasulan