PORTALOKA.ID - Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) semakin sering masuk dalam pembicaraan menuju Pilpres 2029. Sejumlah survei menempatkannya dalam posisi kuat, bahkan dalam beberapa simulasi elektabilitasnya berada di atas Presiden Prabowo Subianto.
Situasi ini melahirkan pertanyaan menarik: jika tren tersebut bertahan sampai 2029, apakah KDM akan berani maju ketika Prabowo kembali mencalonkan diri? Atau justru KDM sedang mempersiapkan diri untuk skenario lain: maju apabila Prabowo tidak lagi mencalonkan diri?
Survei SMRC pada Juli 2026 menempatkan Dedi Mulyadi dengan elektabilitas 35 persen dalam simulasi semi-terbuka, sementara Prabowo Subianto 14,5 persen. Dalam simulasi head-to-head, Dedi bahkan memperoleh 59 persen berbanding Prabowo 28,3 persen.
Angka survei tentu bukan hasil pemilu. Pilpres 2029 masih cukup jauh dan konfigurasi politik dapat berubah. Namun setidaknya ada satu pesan penting: KDM sekarang sudah menjadi figur yang terlalu kuat untuk diabaikan dalam pembicaraan suksesi nasional.
Baca Juga: 293 Santri Ponpes Manbhaul Hikam Sidoarjo Diduga Keracunan MBG, Bermula saat Jam Makan Siang
Belakangan bahkan muncul isu KDM akan meninggalkan Gerindra dan bergabung dengan PSI. KDM telah membantah kabar tersebut dan menegaskan dirinya masih berada di Gerindra. Karena itu, tingginya elektabilitas KDM belum tentu harus diterjemahkan sebagai persiapan untuk melawan Prabowo.
KDM bisa saja sedang tumbuh menjadi calon presiden, tetapi belum tentu menjadi calon presiden yang ingin menantang Prabowo. CEO Promedia Group, Agus Sulistriyono melihat ada faktor lain yang tidak boleh diabaikan dalam membaca langkah politik KDM: karakter dan komitmen.
Menurut Agus, identitas KDM selama ini sangat lekat dengan nilai-nilai budaya Sunda. Ia tidak hanya tampil sebagai kepala daerah, tetapi juga membawa simbol, tradisi dan filosofi budaya dalam gaya kepemimpinannya.
“Saya melihat KDM sebagai orang yang kuat memegang komitmen. Dia membawa nilai dan simbol budaya Sunda dalam dirinya. Karena itu, saya sulit membayangkan KDM meninggalkan Prabowo hanya karena peluang elektoralnya sedang terbuka,” kata Agus Sulistriyono, CEO Promedia Group.
Baca Juga: Militan Boxing Camp Ciamis Sukses Cetak Juara Meski di Tengah Keterbatasan
Faktor tersebut penting karena politik tidak selalu semata-mata ditentukan oleh elektabilitas. Ada hubungan personal, kepercayaan, perjalanan politik dan komitmen yang ikut menentukan keputusan seseorang.
Jika Prabowo kembali maju pada 2029, Agus memperkirakan KDM justru akan tetap berada bersama Prabowo. “Kalau Prabowo masih maju, saya menduga KDM akan tetap bersama Prabowo. Elektabilitas boleh tinggi, tetapi komitmen juga punya harga,” ujarnya.
Situasi Berbeda Ketika Meninggalkan Golkar
Dedi Mulyadi memang pernah mengambil keputusan besar dengan meninggalkan Golkar dan bergabung dengan Gerindra pada 2023. Namun konteks tersebut berbeda dengan situasi KDM hari ini. Perpindahan dari Golkar tidak bisa begitu saja dijadikan dasar bahwa KDM akan mudah meninggalkan Gerindra apabila ada partai lain yang menawarkan tiket Pilpres 2029.