Keesokan paginya, Yoyon mendapatkan informasi dari tetangga kalau anaknya, Rheza dirawat di RS Sardjito karena terkena gas air mata.
Sesampainya di Sardjito, Yoyon mendapati tubuh anaknya sudah terbujur kaku.
"Saya ke sana (Sardjito), anaknya sudah terbujur kayak gitu," katanya.
Yoyon bilang, sang putra telah menghembuskan napas terakhirnya pada pukul 07.00 WIB.
"Iya kejadiannya pagi, di depan Polda (DIY) kayaknya," imbuhnya.
Ia mengatakan saat memandikan jenazah sang putra menemukan beberapa luka ditubuh Rheza.
Luka tersebut ada di bagian leher kiri, kepala, luka sayatan hingga bekas sepatu PDL di perut kanan korban.
"Tadi aku sudah melihat dan ikut mandikan, yang sini (leher kiri) kayak patah, pas dikucir kepala (yang dislokasi) juga harus di-krek (dikembalikan) sama yang di sana. Cuma yang paling kelihatan kan bekas-bekas sepatu PDL itu sini (perut bagian kanan), sama bekas sayatan-sayatan (memar pukulan). Sayatan kayak bekas digebuk itu loh. Bocor (kepalanya) itu," ungkap Yoyon.
Terpisah, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Amikom, Alvito Afriansyah mengatakan dapatkan informasi kalau korban ikut lakukan demonstrasi di sekitar Mapolda DIY.
Hal ini diperkuat dari video yang beredar, dari motor yang dikendarai dan keterangan teman sekelas korban.
"Ya perihal itu bahwa memang betul itu adalah korban yang kita sama-sama lihat di video pada saat aparat melemparkan gas air mata dan mungkin insiden itu terjadi pada saat itu. Ya dari motor dan itu kami dapatkan informasi dari teman sekelas bahwa yang memvalidasi bahwa benar memang itu saudara Rheza," ucapnya.