Hal itu diungkapkan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin.
Melalui akun Facebooknya, Thomas Djamaluddin menyebut ada potensi perbedaan awal Ramadhan 1446 H.
"Mungkin 1 Maret atau 2 Maret, karena posisi bulan di batas kriteria," tulis Thomas, dikutip Jumat, 28 Februari 2025.
Menurut Thomas, terjadinya perbedaan itu disebabkan beberapa kondisi.
Baca Juga: Ide Jualan Takjil Buka Puasa Ramadhan, Simple Brownies Nyoklat Legit dan Menggugah Selera
Ia mengungkapkan kriteria baru MABIMS, yakni posisi hilal mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat terpenuhi di wilayah perbatasan, sekitar wilayah Aceh.
"Hanya wilayah Aceh yang mungkin melihatnya (hilal)", kata Thomas.
Adapun kondisi lain yang menyebabkan terjadinya perbedaan awal Ramadhan 1446 H menutur Thomas, potensi gagalnya rukyat karena hilal sangat tipis dengan elongasi geosentrik 6,4 derajat atau batas minimal MABIMS.
Selain itu, lanjut Thomas, faktor cuaca juga kemungkinan besar cukup mengganggu.
Lantas, bagaimana jika rukyatul hilal gagal?
Thomas mengatakan, ada dua pilihan yang bisa diambil.
Pertama, sidang isbat mengambil hasil hisab yang memenuhi kriteria yaitu di Aceh dan menetapkan 1 Ramadhan 1446 H jatuh pada 1 Maret 2025.
Kedua, papar Thomas, sidang isbat mengambil keputusan berdasarkan hasil rukyat, karena di sebagian besar wilayah Indonesia hilal tidak mungkin dapat dilihat, maka 1 Ramadhan jatuh pada 2 Maret 2025.