Pemerintah kolonial Belanda yang diwakili Gubernur Jenderal Van Lansnerge pada 1 879 akhirnya mulai membangun kembali masjid kebanggaan rakyat Aceh ini untuk meredam kemarahan.
Baca Juga: Awal Tahun Baru, 43 Personel Polres Sikka Naik Pangkat dengan Penuh Makna
2. Memiliki Arsitektur Megah
Masjid yang didirikan era Kesultanan Aceh ini merupakan karya arsitek Belanda, Gerrit Bruins yang dirancang dengan menggabungkan gaya sejumlah negara.
Gaya khas Mughalnya menciptakan tampilan unik berupa kubah-kubah meruncing berwarna hitam, kontras dengan interior dan eksterior serba putih.
Gerbang utama yang menyerupai gaya rumah klasik Belanda berada tepat di depan pintu utama, dibatasi serambi bergaya arsitektur masjid-masjid di Spanyol.
Sementara, pintu yang menjadi sekat menuju ruang utama masjid bergaya khas arsitektur kuno India.
Baca Juga: Pemuda di Bola Sikka Ditemukan Gantung Diri Tak Jauh dari Rumahnya, Begini Kronologinya
Pada bagian ruang utama masjid terdapat hamparan luas ruang berlantai marmer berwarna dominan putih dari Italia.
Ruang utama ini juga dipenuhi tiang penyangga berwarna putih dengan sedikit aksen hiasan di bagian bawahnya, membuat ruang utama terkesan semakin lapang.
Di bagian tengah ruang utama terdapat kubah utama yang dilengkapi dengan lampu gantung yang memancarkan 17 titik penerangan.
Selain itu, posisi masjid yang terletak di lapangan terbuka semakin memperkuat kesan megah karena bentuk bangunannya tampak secara keseluruhan dari berbagai arah.
Di depan masjid, terdapat taman yang ditumbuhi rerumputan dengan aksen beberapa pohon kurma.
Ada juga kolam besar, pada waktu-waktu tertentu akan memantulkan refleksi bangunan masjid sehingga menghasilkan sebuah pemandangan menakjubkan.
3. Ikon Wisata Banda Aceh