Dikutip dari situs Indonesia.travel, Candi Cangkuang merupakan candi peninggalan Hindu yang dibangun pada abad ke-8. Di dalam candi tersebut terdapat patung Dewa Siwa.
Keberadaan Candi Cangkuang sendiri pertama kali diketahui oleh Vorderman, warga Belanda yang kala itu menetap di Garut.
Dalam buku penelitiannya, Notulen Bataviaasch Genotschap yang diterbitkan pada tahun 1893, di Cangkuang tidak hanya terdapat patung Dewa Siwa, tetapi juga makam Embah Dalem Arif Muhammad, yang merupakan tokoh penyebaran agama Islam di wilayah ini.
Namun candi yang memiliki luas 4,5 x 4 meter persegi dan tinggi 8,5 meter baru ditemukan pada 1966 oleh Tim Sejarah Leles.
Nama Cangkuang sendiri berasal dari nama tanaman sejenis pandan yang banyak terdapat di sekitar candi.
Daun Cangkuang ini biasanya dimanfaatkan untuk membuat tudung, tikar, atau pembungkus gula aren.
Tak jauh dari candi, ada pemukiman legendaris bernama Kampung Pulo.
Penghuni kampung ini bukanlah orang sembarangan, mereka merupakan keturunan Eyang Embah Dalem Arif Muhammad.
Baca Juga: Cuma Modal Rp20 Ribu Bisa 'Ngalamun' dengan Tenang di 5 Tempat Jawa Barat Ini, Cek Lokasinya!
Di kampung ini hanya ada 7 bangunan, terdiri dari 6 rumah dan 1 mushola.
Bangunan ini menyimbolkan keturunan Eyang Embah Dalem Arif Muhammad yang memiliki 7 anak, yaitu 6 perempuan dan 1 laki-laki.
Adapun yang perempuan mendiami 6 rumah tersebut, sedangkan mushola untuk anak laki-laki.
Sejak abad ke-17 hingga sekarang, Kampung Pulo tetap bertahan dengan 7 bangunan dengan 6 kepala keluarga.