Jika arah kiblat yang selama ini digunakan sudah tepat, maka fenomena ini akan memperkuat ketepatan tersebut.
Namun jika masih ada keraguan, ini menjadi waktu yang paling ideal untuk memverifikasi arah kiblat.
Lebih lanjut, Arsad memaparkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengecekan arah kiblat saat Istiwa A‘zam.
Pertama, benda yang digunakan sebagai patokan harus benar-benar berdiri tegak lurus, bisa dengan bantuan lot atau bandul.
Kedua, permukaan tempat pengecekan harus datar dan rata. Ketiga, waktu pengukuran harus disesuaikan dengan waktu resmi, seperti yang dikeluarkan BMKG, RRI, atau Telkom.
“Ketepatan waktu sangat penting agar bayangan yang dihasilkan benar-benar mengarah sesuai posisi matahari yang sedang berada di atas Ka'bah,” jelas Arsad Hidayat.
Arsad Hidayat menambahkan, fenomena ini hanya terjadi dua kali dalam setahun dan menjadi sarana edukatif sekaligus spiritual bagi umat Islam untuk menjaga akurasi arah kiblat dalam ibadahnya. ***
Artikel Terkait
Terungkap Identitas Mayat Pria yang Ditemukan Bersimbah Darah di Penggilingan Batu Karangmoncol Purbalingga, Ternyata Sopir Taksi Online
Polisi Periksa 4 Saksi Kasus Penemuan Mayat Bersimbah Darah di Penggilingan Batu Karangmoncol Purbalingga
Mayat yang Ditemukan Bersimbah Darah di Penggilingan Batu Karangmoncol Purbalingga Diduga Korban Pembunuhan
Anjing Pelacak Endus Batu Berlumur Darah di Lokasi Penemuan Mayat Bersimbah Darah di Penggilingan Batu Karangmoncol Purbalingga
Jadi Pemasok Program MBG, Supplier Ikan Ini Berhasil Kembangkan Usaha Berkat Pinjaman BRI